Galau Mau Jadi Pengusaha atau Tetap Jadi Karyawan? Ini Jawabannya

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 03 Mar 2021 08:15 WIB
Confused woman and question marks high quality studio shot
Foto: Thinkstock
Jakarta -

Barangkali kamu salah satu karyawan yang sedang galau ingin banting setir menjadi pengusaha atau tetap menjadi anak buah dari si bos. Nah, beberapa hal ini bisa membantu kamu memecah kebuntuan itu.

Bisa saja kamu galau untuk hijrah menjadi pebisnis karena dihantui oleh rasa takut. Menurut Coach Yohanes, apa yang kita pikirkan itulah yang akan kita dapatkan. Jika kamu takut akan sesuatu ketika memulai bisnis maka itulah yang akan didapat.

"Jadi, kalau kita takut saya selalu percaya kalimat in this like, we get what we believe, dalam hidup ini ya kita dapat apa yang kita percayai. Kalau percayanya bangkrut ya bangkrut," kata dia dalam program dMentor: 'Business is Fun!' yang tayang kemarin Selasa (2/3/2021).

Jangan khawatir, Coach Yohanes punya sudut pandang lain untuk meredam ketakutan-ketakutan semacam itu. Bila kami menilai menjadi pebisnis atau pengusaha lebih berisiko ketimbang jadi karyawan, menurutnya justru sebaliknya.

"Kalau yang namanya jadi karyawan, customernya karyawan itu ada berapa orang? customernya karyawan cuman satu, yaitu bosnya langsung. Berarti kalau customernya pecat dia berarti dia kehilangan customer semua kan langsung 100%," jelasnya.

Sedangkan menjadi pebisnis, kamu bakal memiliki peluang mendapatkan lebih dari satu customer. Ada satu customer yang pergi? jangan khawatir, masih banyak calon customer yang bisa dirangkul.

"Waktu kita bangun bisnis customer kita satu atau banyak? ada banyak. Satu customer tidak suka produk atau jasa kita, mungkin dia pindah atau dia apa, masih ada customer yang lain atau nggak? resikonya besaran di mana? jadi semua tinggal cara pandang kita melihat," ujar Coach Yohanes.

Tonton video 'Karyawan Tapi Pengusaha':

[Gambas:Video 20detik]



Lanjut halaman berikutnya.

Dia memahami, menjadi karyawan mungkin relatif lebih nyaman karena penghasilannya pasti. Itu membuat mereka tetap betah berada di zona nyaman alias comfort zone.

"Tapi kan ada kalimat yang bilang gini 'there is no growth on comfort zone' 'tidak ada pertumbuhan di zona nyaman'. Tapi tidak ada kenyamanan di zona pertumbuhan. Pilih yang mana kalau pilihannya cuma dua?," tanyanya.

Pesan dari dia bahwa dirinya tidak menyarankan semua karyawan menjadi entrepreneur, kecuali jika hatinya terpanggil untuk menjadi pengusaha.

"Kalau ada di hatinya Tuhan taruh 'saya mau jadi enterpreneur' ayo bangun bisnis dari nol, belajar dari pengalaman banyak orang lain. Jangan coba-coba sendiri lah karena hidup ini kan singkat," tambah Coach Yohanes.

(toy/fdl)