Moody's Pelajari Kemungkinan RI Naik Peringkat
Senin, 27 Feb 2006 11:13 WIB
Jakarta -
Lembaga pemeringkat internasional, Moody's akan me-review kemungkinan kenaikan peringkat Indonesia. Moody's memandang Indonesia berhak mendapatkan kenaikan peringkat karena membaiknya keuangan pemerintah.Review itu dilakukan atas obligasi pemerintah dalam mata uang lokal dan asing yang saat ini mendapat peringkat "B2", batas simpanan bank dalam mata uang asing yang kini mendapat peringkat "B3". Sementara petunjuk untuk mata uang lokal masih tetap di "Baa2" dan tidak akan di-review. Demikian siaran pers dari Moody's yang dikeluarkan Senin (27/2/2006).Defisit APBN 2005 tercatat di bawah 1 persen, yang melanjutkan tren penurunan defisit dalam beberapa tahun terakhir. Kehati-hatian fiskal telah membuat angka rasio utang terhadap PDB Indonesia turun tajam. Demikian pula rasio utang pemerintah terhadap pendapatan juga dalam tren penurunan. Moody's menyatakan, review akan dilakukan untuk mempelajari kesinambungan dari tren penurunan tersebut.Faktor lain yang akan diperhatikan Moody's adalah jumlah utang luar negeri yang masih tinggi berkaitan dengan kategori peringkat B1 yang kini disandang Indonesia. Dengan tingginya utang luar negeri, Moody's akan mempelajari apakah struktur utang pemerintah sudah berkurang kerentanannya terhadap berbagai goncangan.Moody's menegaskan, masih relatif rendahnya penanaman modal asing (PMA) akan tetap menjadi ancaman bagi prospek perekonomian Indonesia dalam jangka menengah. Namun demikian, saat ini terlalu awal untuk melihat hasilnya di tengah upaya untuk memperbaiki iklim investasi. Moody's mengatakan, tantangan untuk masalah investasi ini masih menakutkan dan arah peringkat Indonesia di masa depan akan tergantung pada variabel ini.Tantangan lain bagi Indonesia menurut Moody's adalah berkaitan kebijakan moneter dan mata uang. Tahun lalu, aliran modal cukup bergejolak membuat interest rate differential antara dolar dan rupiah semakin sempit. Hal itu menyebabkan adanya penurunan terhadap cadangan devisa Indonesia.Kebijakan moneter ketat yang diberlakukan BI dinilai cukup berhasil membalikkan tren tersebut. Namun Moody's mencatat bahwa Indonesia masih tetap rentan terhadap perubahan aliran modal secara cepat dan tiba-tiba.Moody's juga menyatakan, review akan terkonsentrasi pada prospek fiskal dalam jangka menengah termasuk juga posisi utang luar negeri Indonesia, dan juga masalah-masalah yang berhubungan dengan rendahnya PMA.
(qom/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































