Rencana Erick Thohir Akuisisi Peternakan hingga Ladang Garam di Luar Negeri

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 04 Mar 2021 08:37 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir jalin kerja sama dengan BPKP
Foto: Dok. Kementerian BUMN
Jakarta -

Impor masih menjadi pekerjaan rumah Indonesia. Saat ini, pemerintah tengah berupaya mengatasi masalah tersebut dengan melakukan sejumlah akuisisi.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, sejumlah inisiatif yang sedang disiapkan antar lain akuisisi peternakan, tambang fosfat dan penambangan garam.

"Beberapa inisiatif kami yang sedang direncanakan termasuk akuisisi peternakan, penambangan fosfat, penambangan garam di luar negeri untuk mengurangi ketergantungan impor," kata Erick dalam acara MNC Group Investor Forum 2021, Rabu (3/3/2021).

Dia menuturkan, langkah tersebut merupakan bagian dari 88 inisiatif yang akan dilaksanakan pada 2021 hingga 2023.

"Inisiatif ini merupakan bagian dari 88 proyek strategis kami yang akan dilaksanakan dari 2021 hingga 2023 untuk meningkatkan rantai pasok, pertumbuhan dan kemajuan ekonomi nasional," ujarnya.

Menurut Erick, hal tersebut sebagai upaya untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara terbesar di 2045.

"Sehingga Indonesia mencapai visi sebagaimana target yang telah disebutkan oleh presiden dan juga kabinet menjadi ekonomi terbesar kelima pada tahun 2045," ujarnya.

Simak juga 'Erick Thohir Minta 3 BUMN Bikin Baterai Mobil Listrik tahun 2023':

[Gambas:Video 20detik]



Di samping itu, Erick juga mendorong keterlibatan swasta dalam pembangunan di Tanah Air. Erick mengatakan, sudah banyak proyek BUMN yang telah dikerjasamakan dengan swasta. Ia berharap lebih banyak lagi swasta yang terlibat proyek dengan BUMN.

Dia menyebut, pertama, industri baterai kendaraan listrik atau EV baterry. Dalam proyek ini, BUMN menggandeng beberapa perusahaan global yakni CATL dan LG Chem.

"Kami telah melibatkan pemain global di berbagai industri seperti CATL dari China dan LG Charm dari Korea untuk berkolaborasi dan mengambil bagian dalam mengembangkan ekosistem baterai EV nasional, dan tentu saja kami berharap dapat bermitra dengan lebih banyak perusahaan swasta, terutama perusahaan lokal," kata Erick.

Kedua, Kawasan Industri Batang. Di kawasan seluas 4.300 ha ini BUMN bertanggungjawab untuk mengembangkan infrastruktur dasar.

"Sedangkan investor swasta dapat fokus pada bisnisnya dengan menjadikan Kawasan Industri Batang sebagai pusat otomotif, ICT dan pusat manufaktur elektronik," ujarnya.

Ketiga, Sarinah. Saat ini, departement store pertama di Indonesia sedang melakukan renovasi. Perusahaan yang memasarkan produk lokal ini nantinya juga akan menggaet swasta.

"Sarinah juga menjalin kemitraan dengan Dufry, rantai duty free terbesar dengan menawarkan 420 lokasi di seluruh dunia untuk menjual produk merek lokal Indonesia tertentu di gerai mereka secara global," katanya.

Keempat, Sovereign Wealth Fund atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI). Lembaga ini akan mendanai proyek-proyek infrastruktur di Indonesia seperti tol, bandara dan pelabuhan. Di situ, swasta dapat terlibat melalui kemitraan ekuitas.

"INA diharapkan dapat memacu pembangunan nasional dan menarik investasi asing baru melalui kemitraan ekuitas bukan instrumen utang," tambahnya.

Kelima, zona ekonomi khusus Sanur. Erick menilai Sanur memiliki potensi besar untuk wisata kebugaran dan kesehatan. Menurutnya, swasta bisa bekerja di wilayah tersebut.

"Kami sangat senang dengan potensi sinergi antara pemerintah, BUMN serta investor lokal dan global," ujarnya.

(acd/zlf)