Jokowi Minta Benci Produk Asing, Importir: Tidak Semua Barang Ada di RI

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 04 Mar 2021 13:24 WIB
Presiden Jokowi dalam Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2021 (Foto: Tangkapan layar YouTube Setpres)
Foto: Presiden Jokowi (Foto: Tangkapan layar YouTube Setpres)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggaungkan ajakan cinta produk dalam negeri dan membenci produk asing. Hal ini disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional Kementerian Perdagangan.

Menanggapi hal tersebut Ketua Badan Pengurus Pusat (BPP) Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Subandi mengungkapkan pernyataan Jokowi adalah hal yang wajar.

"Pak Jokowi ya sah-sah saja ngomong begitu. Sebagai kepala negara mau agar produk dalam negerinya dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia," kata dia saat dihubungi detikcom, Kamis (4/3/2021).

Dia mengungkapkan namun dari sisi pelaku usaha memang harus berpikir realistis. Hal ini karena kegiatan perdagangan internasional sudah ada sejak dulu.

Menurut dia, sebagai importir pengusaha melihat setiap ada permintaan merupakan sebuah peluang.

"Pertanyaannya apakah orang Indonesia kebutuhannya sudah bisa dipenuhi dengan produk dalam negeri, kita realistis saja dari sisi jenis barang kan tidak semua yang dari luar negeri itu ada di Indonesia," jelasnya.

Subandi mengungkapkan selain itu juga kualitas produk asing dan lokal berbeda. Walaupun tidak semua produk lokal kurang berkualitas baik.

Dia menyampaikan untuk perdagangan internasional itu bukan hanya sekadar dagang. Tapi juga ada silaturahmi internasional. "Nggak mungkin kita mau ekspor tapi nggak mau impor kan," ujar dia.

Menurut Subandi dunia diciptakan terdiri dari banyak bangsa di dunia dan potensi masing-masing dan tidak mungkin seluruhnya ada di Indonesia. Kemudian begitupun di negara lain.

Subandi menyebutkan untuk memajukan produk dalam negeri lebih baik mengajak masyarakat untuk mencintai produk lokal tersebut. "Perbaiki saja dulu industri di dalam negerinya. Seperti Jepang, kalau kualitasnya sudah bagus masyarakat tidak usah dipaksa, otomatis akan loyal kok," ujar dia.

Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad mengungkapkan pernyataan Presiden Jokowi sangat tidak pas. Hal ini karena sejak era perdagangan bebas pada 1994 lalu mau tidak mau harus membuka diri.

"Menurut saya nggak pas, saya setuju cintai produk Indonesia. Nggak tepat kalau benci produk asing," ujarnya. Menurut Tauhid jika sebuah negara tidak membuka diri dalam perdagangan kita kesulitan untuk melakukan ekspor.

Jadi ajakan benci ke produk asing bukanlah hal yang tepat dan lebih tepat bagaimana caranya mengalahkan produk asing. Dia mengungkapkan saat ini saja Presiden dan jajarannya masih menggunakan produk asing seperti kendaraan dinas.

"Memang harus ada dukungan penuh, termasuk janji mobil nasional, produk hp dan elektronik lainnya. Harus ada komitmen," ujar dia.

(kil/ara)