Cara Grup Hotel BUMN Bertahan di Tengah Pandemi dan Gaet Milenial

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 05 Mar 2021 16:20 WIB
Hotel BUMN Siapkan Protokol Kesehatan Hadapi New Normal
Foto: Dok. Hotel Indonesia Natour
Jakarta -

PT Hotel Indonesia Natour (Persero) menargetkan bisa mengelola 111 hotel pada 2025. Hotel BUMN ini sekarang sedang melakukan pengembangan dan terus meningkatkan kualitas layanan.

Direktur Utama PT Hotel Indonesia Natour selaku Komisaris PT Hotel Indonesia Group Iswandi Said mengungkapkan memang pandemi banyak mengubah tatanan industri di dunia. Termasuk perhotelan.

Dia menceritakan tahun lalu diharapkan tahun keemasan Hotel Indonesia Natour untuk berkembang pesat. Hal ini karena pada 2019 kinerja perusahaan cukup moncer dan bisa melejit dibandingkan tahun sebelumnya. Namun masa keemasan itu hanya bertahan dua bulan, karena pada Maret pemerintah mengumumkan ada dua kasus positif COVID-19.

Iswandi mengungkapkan walaupun banyak pembatalan pesanan dia memutuskan untuk tidak menutup hotel. Namun hanya mengatur jadwal masuk pegawai. "Karena kalau kami tidak tutup dampaknya akan lebih buruk misalnya banyak teman-teman hotel yang kamarnya tidak dibersihkan dan dibuka jendelanya berjamur. Jadi pas hotel buka lagi malah bermasalah," kata dia, Jumat (5/3/2021).

Kemudian dia mengungkapkan saat itu hotel juga langsung banting setir dengan memanfaatkan layanan pengiriman makanan kepada pelanggan. Mulai dari paket makanan untuk pegawai sampai menjual takjil dan paket lebaran. "Dapur masih ngebul, walaupun asapnya tidak banyak tapi karyawan ada gerak," jelas dia.

Saat ini pelan-pelan operasional mulai berjalan walaupun belum kembali ke posisi sebelum pandemi. Hotel juga sudah mulai memahami protokol kesehatan jika ada konsumen yang ingin menggelar acara. "Misalnya kalau wedding yang biasanya kapasitas 200 orang, sekarang terimanya 50 orang aja," ujar dia.

Untuk menggaet generasi milenial, Hotel Indonesia Group memaksimalkan konten media sosial. Dengan konten media sosial yang bagus generasi milenial, Y dan Z bisa mendapatkan experience berbeda.

Pasalnya generasi ini sangat terpengaruh dengan influencer travel. Apa yang diunggah oleh influencer biasanya dengan mudah menggerakan mereka untuk menjajal pengalaman tersebut.

"Bagaimana caranya kita mengguide ke arah atau image positif dan mengurangi sentimen negatif. Saat kuartal 3 kemarin kita sudah masuk ke influencer di beberapa lokasi, jadinya gampang dijalankan. Ada untuk program staycation dan kita sedang terus berupaya untuk menjangkau generasi Z," ujarnya.

(kil/fdl)