Begini Caranya Agar RI Jadi Raja Udang Dunia

Hendra Kusuma - detikFinance
Sabtu, 06 Mar 2021 21:48 WIB
Internet of Thing (IoT) bila dimanfaatkan bisa mengakomodir para pelaku usaha di berbagai segmen. Seperti petani tambak ikan dan udang ini yang sudah berhasil mencobanya.
Foto: dok. XL Axiata
Jakarta -

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebut udang Indonesia menjadi komoditas ekspor dunia. Melalui udang, Indonesia juga bisa menjadi pemain utama di pasar global.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) KKP, Sjarief Widjaja mengatakan nilai pasar kelautan dan perikanan global sebesar US$ 162 miliar. Dari angka tersebut, sekitar US$ 24 miliar berasal dari udang.

Dia mencontohkan seperti yang menjadi pemain utama ikan salmon di dunia. Negara tersebut telah mengembangkan produk salmon lebih dari 50 tahun yang lalu. Di mana, melalui budidaya dan hilirisasi.

"Sekarang dia menjadi pemain pasar terbesar dunia, mengapa kita tidak meniru Norway menjadi pemain besar," kata Sjarief dalam cara Rapat Kerja Nasional HIPMI 2021, Sabtu (6/3/2021).

Dari US$ 24 miliar, Sjarief mengatakan Indonesia hanya berkontribusi US$ 2 miliar atau dengan produksi udang sekitar 239 ribu ton per tahun. Angka ini akan ditingkatkan menjadi 2 juta ton dengan cara mengembangkan kawasan tambak serta merevitalisasi tambak eksisting.

"Bisnis kita hampir Rp 224 triliun perikanan tangkap, Rp 143 triliun perikanan budi daya setahun. Yang dikelola baru sekitar 600 ribu hektare dari total 2 juta hektare," ujarnya.

"Jadi kita mulai memilih tambak udang yang idle menjadi kawasan, pemerintah masuk untuk infrastruktur seperti jalan, produksi, tandon, sumber air, irigasi, kita siapkan pakan, benih. Private sector masuk sebagai pengelolanya," tambahnya.

Dengan upaya tersebut, dikatakan Sjarief, posisi Indonesia di sektor udang akan meningkat. Saat ini Indonesia di posisi ke-17 dari nilai pasar sebesar US$ 24 miliar

"Jadi kita targetkan 2 juta ton per hektar, saat ini kita 186 ribu kita dorong menjadi 2 juta ton. Jadi ini target kami," ungkapnya.

(hek/hns)