Tips Hindari Ghosting-an Pembeli Toko Online yang Lebih Kejam dari Ghosting-an Kaesang

Tim detikcom - detikFinance
Senin, 08 Mar 2021 20:30 WIB
Girlfriend checking her phone while her boyfriend is running late
Foto: Getty Images/iStockphoto/nicoletaionescu
Jakarta -

Kaesang Pangarep dituding telah ghosting atau menghilang tiba-tiba tanpa ada kejelasan ke Felicia Tissue, orang yang dipacarinya setelah 5 tahun. Bagi para penjual online, mungkin lebih sering dialami karena 'ditinggal' pembeli tanpa kejelasan.

Agar tak sering jadi korban ghosting-an pembeli seperti yang dilakukan Kaesang, penjual toko online harus menentukan harga dan produk yang kompetitif.

"Menetapkan harga tidak boleh sembarangan. Karena kalau terlalu mahal sedangkan kualitasnya sama (dengan kompetitor) kan otomatis kalau kita kemahalan, penjual bisa milih yang lain," kata Pakar Marketing, Yuswohady kepada detikcom, Senin (8/3/2021).

Yuswohady menilai perlakuan ghosting merupakan nasib yang harus diterima oleh penjual online. Dalam hal ini penjual juga tidak bisa membedakan dari awal apakah orang tersebut serius membeli atau tidak.

"Kita akan bisa ngerti ini ghost shopper atau bukan itu dari pengalaman. Kalau orang yang nanya detil kita anggap ghost shopper kan nggak semua begitu juga. Ini seni lah, memang nasib namanya jualan. Jangan kita kecurigaan terhadap ghost shopper membuat service kita jadi menurun," sarannya.

Orang yang suka ghosting dalam hal ini bisa berasal dari kompetitor yang berpura-pura menjadi pembali. Niat mereka biasanya ingin melakukan survei harga bahkan mengambil karya dan menjiplak.

"Jadi kompetitor itu melakukan ghost shopping untuk mengetahui produk, harga misalnya, atau benefit untuk kompetisi atau meniru. Seperti yang dibilang Pak Jokowi, benci produk luar negeri karena beberapa pemain besar kayak melakukan competitor intelligence, terus produknya di-copy tapi dengan harga yang jauh lebih murah," katanya kepada detikcom, Senin (8/3/2021).

Di luar itu, orang yang melakukan ghosting bisa juga berasal dari pembeli sesungguhnya. Mereka biasanya memiliki beberapa tempat belanja online dan ingin mencari harga terbaik sebelum memutuskan untuk membeli.

"Konsumen nyari harga yang paling bagus. Bukan yang paling murah ya, tapi harga yang paling bagus, artinya secara kualitas oke tapi harganya yang terbaik. Itu namanya value," tuturnya.

(aid/fdl)