Swasta Diminta Gotong Royong Genjot Vaksinasi COVID-19

Tim detikcom - detikFinance
Selasa, 09 Mar 2021 23:44 WIB
Covid-19: Mengapa beberapa negara Asia terlambat memulai program vaksinasi virus corona?
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Komisi IX DPR mendorong lebih banyak lagi pihak swasta untuk bergotong royong bersama pemerintah melaksanakan vaksinasi COVID-19. Sebab, dibutuhkan kontribusi semua elemen masyakarat untuk bersama-sama membawa Indonesia keluar dari pandemi ini.

"Kita sekarang ini ibaratnya sedang berperang melawan Covid-19. Dalam kondisi perang ini, kita butuh gotong royong dari semua anak bangsa, tak terkecuali swasta," kata Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris.

Hal itu disampaikan Charles saat bersama-sama Menkes Budi Gunadi Sadikin meninjau proses vaksinasi lansia di Lippo Mall Puri, Jakarta Barat, Selasa (9/3/2021). Keduanya disambut oleh CEO PT Lippo Karawaci, John Riady dan CEO Siloam Hospitals Group, Caroline Riady.

Charles mengapresiasi pelaksanaan vaksinasi lansia yang digelar di salah satu mal terbesar di Jakarta Barat ini. Dia juga melihat langsung antusiasme para lansia yang datang untuk mendapat vaksin.

"Ini bisa jadi percontohan kerjasama yang baik antara swasta dan pemerintah. Saya berharap nantinya tidak hanya Lippo, tapi mal-mal lain juga bisa bekerjasama dengan pemerintah untuk pelaksanaan vaksin," ujarnya.

Politikus muda PDI Perjuangan ini menambahkan, salah satu kunci untuk bisa keluar dari pandemi COVID-19 adalah dengan vaksinasi, sehingga nanti bisa terbentuk kekebalan kawanan (herd immunity).

"Herd immunity ini tidak bisa terbentuk secara alami, karena nanti akan banyak memakan korban jiwa dan dampak ekonomi yang besar. Oleh karenanya harus dilakukan intervensi dengan vaksinasi," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Charles juga menyampaikan masih ada pekerjaan rumah Kemenkes yang belum selesai, yakni mendorong keinginan mayoritas masyarakat untuk mau divaksin. Sebab, menurut riset sejumlah lembaga, masih ada sebagian warga masyarakat yang masih enggan divaksin.

"Kemenkes agar meningkatkan sosialisasi sampai lebih dari 90 persen masyarakat mau divaksin," ujar Charles.

Charles menambahkan, dari sejumlah kunjungannya ke beberapa fasilitas kesehatan tempat pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Jakarta, dia tidak pernah menemukan keluhan warga karena efek samping setelah divaksin.

"Saya keliling ke puskesmas-puskesmas. Sampai sekarang tidak ada bukti bahwa vaksin berbahaya. Vaksin ini terbukti aman," cetusnya.

(upl/upl)