Pasar Digital Oro-Oro Dowo, Solusi Pedagang Tetap Strong Saat Pandemi

Erika Dyah - detikFinance
Kamis, 11 Mar 2021 21:00 WIB
pasar oro-oro dowo
Foto: Erika Dyah
Batu -

Pasar Oro-Oro Dowo konon merupakan pasar tradisional yang telah berdiri sejak zaman kolonial Belanda. Hingga kini, Pasar Oro-Oro Dowo masih tetap eksis melayani kebutuhan masyarakat. Meski begitu, adanya pandemi COVID-19 tak pelak menghantam penjualan di pasar ini.

Sebagai sebuah solusi, Pasar Oro-Oro Dowo kini mengadopsi sistem digital untuk menstabilkan penjualan para pedagang. Sistem digital yang dinamakan pasar id ini dimulai tepat sejak adanya pandemi di Indonesia setahun yang lalu. Disebutkan, ada sekitar 180 pedagang yang menjajakan dagangannya melalui pasar digital ini.

Winarsih (45) salah seorang pedagang makanan di Pasar Oro-Oro Dowo mengaku adanya pasar digital ini menguntungkan para pedagang serta pembeli yang kerap kali merasa takut datang langsung ke pasar karena alasan pandemi.

Kendati baru pertama kali mencoba berjualan dengan sistem digital, ia mengaku tak kesulitan memahami platform yang disediakan. Ia bahkan mengaku, dulu dalam sehari ia hanya bisa mendapatkan pendapatan sebesar Rp2 00 ribu saat kondisi pasar sedang sepi. Akan tetapi, dengan adanya pasar digital pendapatan hariannya bisa mencapai Rp 400 ribu per hari, bahkan lebih.

"Kalau udah nggak pandemi, pengennya tetap lanjut. Dua-duanya (offline & online) jalan, biar omzet juga nambah," jelas Winarsih saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu.

Sementara itu, staf BRI Teras Pasar Oro-Oro Dowo Ovta Viana mengaku pihaknya membantu memfasilitasi kebutuhan para pedagang di pasar ini. Ia menjelaskan, kini semua pedagang yang tergabung dalam pasar digital telah lancar mengakses sendiri platform digital dari Pasar Oro-Oro Dowo. Sehingga pendampingan hanya dilakukan jika sewaktu-waktu terjadi kendala.

"Pertamanya memang harus promosi biar pada gabung, lalu setelah itu ada sosialisasi. Sekarang pedagang malah jadi ngerti dan bisa menginfokan sendiri ke pembelinya kalau dagangan mereka bisa diakses online," ujar Ovta.

pasar oro-oro dowopasar oro-oro dowo Foto: Erika Dyah

Ovta menyebutkan, barang yang diperdagangkan secara digital di Pasar Oro-Oro Dowo terbagi ke dalam beberapa kategori, antara lain pracangan, sayur & buah, daging sapi, ayam, & ikan, makanan & minuman, pakaian, serta peralatan rumah tangga.

Dengan adanya pasar digital, pembeli dapat mengakses situs s.id/pasarood dan memesan langsung barang yang ingin dibeli secara online. Pembayaran pun dilakukan secara cashless, yakni melalui sistem transfer. Sehingga dijamin aman dan praktis dalam bertransaksi.

Tak hanya itu, pasar digital ini juga turut memberdayakan warga sekitar dan ojek lokal untuk bekerja sama menjadi kurir yang mengantar pesanan ke para pembeli.

Selain diantar kurir, tersedia pula fasilitas dropbox di Teras BRI Pasar Oro-Oro Dowo untuk memudahkan pembeli dan pedagang dalam bertransaksi.

"Apabila nanti setelah pesan online pembelinya mau ambil sendiri, tidak lewat kurir tapi juga enggan masuk ke dalam pasar, kita sediakan dropbox. Jadi nanti pedagang tinggal masukkan ke dropbox, pembelinya tinggal ambil," terang Ovta.

Adapun sistem pasar digital yang diterapkan melalui pasar id ini merupakan inisiasi dari BRI untuk membantu masyarakat di tengah pandemi.

Kepala Cabang BRI Malang Soekarno-Hatta Hendra Winata mengaku, pihaknya berdampingan dengan para pedagang untuk dapat menghadapi pandemi bersama-sama melalui upaya digitalisasi pasar ini.

"Berawal dari kegelisahan kita karena saking sepinya pedagang di pasar akhirnya kita coba ciptakan aplikasi pasar id," tutur Hendra.

Hendra menyebutkan, tak hanya Pasar Oro-Oro Dowo, tapi juga ada belasan pasar lain di wilayah Malang yang telah menerapkan sistem pasar digital berbasis online ini. Total, terdapat sekitar 2154 pedagang yang telah tergabung dengan pasar digital di wilayah kerja Malang Soekarno-Hatta.

Untuk pelaksanaan pasar id, lanjut Hendra, BRI bekerja sama dengan stakeholder di pasar dalam melakukan sosialisasi pada pedagang. Termasuk dengan dinas pasar juga kepada pihak terkait yang mengelola pasar bumdes/swasta.

"Kita masuk pasar, ngobrol dengan pedagang pasar itu. Kita cermati kesulitannya di mana. Terus apa yang bisa kita bantu dan rata-rata dari hasil diskusi itu mereka baru tahu kalau BRI bisa bantu seperti ini. Rata-rata mereka appreciate dengan kehadiran kita," akunya.

Kisah dari Pasar Oro-Oro Dowo ini menjadi satu dari kumpulan kisah dalam program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia. Program Jelajah UMKM mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, Ikuti terus jelajah UMKM bersama BRI hanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.

(mul/ara)