Olahan Ikan Kering Jadi Ladang Bisnis Perempuan Pesisir Demak

Angga Laraspati - detikFinance
Senin, 15 Mar 2021 15:47 WIB
Tak hanya melaut, perempuan nelayan yang ada di pesisir Kabupaten Demak punya cara sendiri untuk menghasilkan pundi-pundi uang.
Foto: Pradita Utama/detikcom
Demak -

Tak hanya melaut, perempuan nelayan yang ada di pesisir Kabupaten Demak punya cara sendiri untuk menghasilkan pundi-pundi uang. Salah satunya adalah dengan mengolah hasil tangkapan laut khususnya ikan menjadi olahan ikan kering atau ikan asin.

Hal ini dapat dilihat di suatu kawasan yang berada di Desa Morodemak, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Di tempat yang menjadi sentra ikan kering ini terhampar luas jajaran ikan yang dikeringkan dengan menggunakan alat tradisional yang biasa disebut para-para.

Dalam program Jelajah UMKM BRI di Kota Wali, detikcom berkesempatan mengunjungi sentra ikan kering ini, bau amis dan juga terik matahari tak menghalangi laki-laki maupun perempuan untuk mengeringkan ikan yang sudah dibeli dari nelayan. Setidaknya ada kurang lebih 30 orang yang menjadikan olahan ikan kering ini sebagai pekerjaannya.

Salah satunya adalah Sri Hayati (37), perempuan yang menjadikan olahan ikan kering sebagai ladang bisnis. Mengawali bisnisnya dari sebuah kantin kecil, Sri Hayati mencoba untuk mengolah ikan kering untuk mencari tambahan uang bagi keluarganya.

"Kita tidak punya tempat, saya hanya sewa kios untuk berjualan, dulu saya jualan nasi untuk dibeli nelayan kan kalau kemarau kan ramai, kalau lagi sepi saya terjun ke pengolahan ikan, ya loncat-loncat lah. Secara penghasilan sama sih kurang lebih tapi kalau jual nasi ya mungkin enaknya tidak panas-panasan, ya mau gimana lagi daripada hutang," ujar Sri Hayati kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.

Adapun jenis ikan yang kerap diolah oleh Sri Hayati untuk dikeringkan antara lain ikan teri, layur, petek, semar, hingga juwi. Dalam prosesnya, Sri Hayati memulai kegiatannya pada tengah hari yaitu pukul 12.00. Kemudian ikan yang sudah dibeli dari nelayan dikasih garam, dan ditunggu setengah hari untuk nantinya difillet dan untuk dijadikan olahan ikan kering.

Tak hanya melaut, perempuan nelayan yang ada di pesisir Kabupaten Demak punya cara sendiri untuk menghasilkan pundi-pundi uang.Olahan Ikan Kering Jadi Ladang Bisnis Perempuan Pesisir Demak. Foto: Pradita Utama/detikcom

"Beli ikan itu 1 keranjang, biasanya paling mahal ya Rp 70.000 kalau kering bisa dapat 8 kg, kalau di rata-rata Rp 20 ribu lah dapat sekitar Rp 160.000 tapi itu kita belum beli garam, transport juga. Kalau bisa kering 1,5 hari itu bagus, kalau tidak ada sinar matahari, katakanlah misal keringnya 3 hari itu bobotnya bisa menyusut," ungkapnya.

Cuaca pun menjadi tantangan bagi Sri dan juga pengolah ikan kering lainnya. Sebab, bila cuaca sedang bagus-bagusnya Sri mampu menghasilkan 10 basket ikan kering dengan berat sekitar 50 kg.

Namun, bila cuaca sedang tidak mendukung, ia hanya bisa mendapatkan setengah dari penghasilan ketika cuaca sedang bagus. Inilah yang membuat pendapatan yang diterima oleh Sri Hayati tidak menentu. Rata-rata Sri mampu untuk meraup omzet kotor di kisaran Rp 1.000.000 - Rp 3.000.000 per bulannya.

Namun, olahan ikan yang dihasilkan oleh Sri ternyata sudah tercium hingga luar Demak. Bahkan, Sri Hayati pernah menjual 2-3 kwintal ikan kering untuk pasar di luar Demak.

Tak hanya melaut, perempuan nelayan yang ada di pesisir Kabupaten Demak punya cara sendiri untuk menghasilkan pundi-pundi uang.Olahan Ikan Kering Jadi Ladang Bisnis Perempuan Pesisir Demak Foto: Pradita Utama/detikcom

"Distribusi biasanya ke Sragen, Temanggung, Solo, ada juga pernah ke Sumatera, Lampung. Jakarta juga biasanya ada tapi dalam bentuk ikan rebus. Kalau ada pendatang dari jauh dari Solo dan Sragen dan mau borong banyak itu seperti 2-3 kwintal ya bisa langsung ambil," jelasnya.

Dalam menggeluti usaha yang dimulainya sejak 5 tahun silam ini, Sri juga memilih untuk meminjam KUR yang diberikan oleh BRI. Ia pun mengaku setelah meminjam dari BRI, produksi olahan ikan kering miliknya mengalami peningkatan hingga 50%.

"Dulu kalau sebelum pinjam sehari itu saya punya uang Rp 500.000 beli ikan hanya 1 basket, kalau setelah pinjam bisa beli 5 basket. Tapi pinjaman itu yang Rp 20 juta, Alhamdulillah tertutup. Untuk kenaikan produksinya perkiraan sih 50% setelah dapat pinjaman," tuturnya.

Sri yang juga merupakan anggota dari KWT Puspita Bahari, sebuah kelompok perempuan pesisir di Demak mengaku juga mendapatkan bantuan CSR dari BRI untuk memajukan usahanya. Bantuan tersebut antara lain rantang untuk mencuci ikan, sealer untuk mengemas, hingga timbangan.

"Alhamdulillah juga waktu itu dapat CSR (dari BRI) untuk Puspita Bahari, lalu dikasih ke sentra-sentra, kita dapat timbangan, box untuk menyimpan ikan kering, dapat rantang untuk nyuci ikan, dapat para-para, sealer untuk ngepress plastic kemasan. Yang jelas ini sangat membantu kita. Karena ada bantuan itu bisa nambah-nambah alat yang kurang dan tentu menaikkan produksi," pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.



Simak Video "Bunga Krisan Sidomulyo Yang Tetap Mekar di Era Pandemi"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/hns)