Mendag-Buwas Beda Suara soal Impor 1 Juta Ton Beras

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 16 Mar 2021 08:15 WIB
Pekerja memeriksa kualitas beras di Gudang Perum Bulog Sub Divre Pekalongan, Desa Munjung Agung, Tegal, Jawa Tengah, Selasa (7/4/2020). Menurut Perum Bulog Sub Divre Pekalongan, jelang Ramadan dan upaya penanganan COVID-19 stok beras di wilayah Pekalongan, Tegal dan Brebes cukup untuk enam bulan kedepan sebanyak 30.000 ton setara beras. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/hp.
Ilustrasi/Foto: ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah
Jakarta -

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso atau yang akrab disapa Buwas membuka peluang batalnya impor 1 juta ton beras. Sebab, masih banyak beras impor yang belum terpakai sehingga turun mutunya.

Perum Bulog masih memiliki stok beras impor dari pengadaan tahun 2018 lalu. Adapun dari total pengadaan sebanyak 1.785.450 ton beras, masih tersisa 275.811 ton beras belum tersalurkan. Dari jumlah tersebut, 106.642 ton di antaranya merupakan beras turun mutu.

Kelebihan beras impor ini pun sudah dilaporkan Buwas kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Kami sudah lapor ke presiden saat itu, beras impor kami saat Maret tahun lalu (stoknya) 900 ribu ton sisa dari 1,7 juta ton, sekian juta ton beras impor, jadi sudah menahun kondisinya," ujar Buwas dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI, Senin (15/3/2021).

Beras turun mutu itu, sambung Buwas sebenarnya masih layak pakai, akan tetapi harus dicampur dengan beras dalam negeri demi mempertahankan kualitas berasnya.

Namun, cara mencampur beras impor dan dalam negeri itu memerlukan waktu lebih panjang. Untuk itu, penyalurannya pun jadi lebih lambat. Penyebab lain, beras impor kurang terserap di masyarakat adalah karena rasanya kurang cocok di lidah orang Indonesia.

Sedikit berbeda dari Buwas, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi punya pandangan sendiri soal rencana impor 1 juta beras.

Simak juga 'Begini Cara Produk China 'Hancurkan' Produk Dalam Negeri':

[Gambas:Video 20detik]