Ada Batam Logistic Ecosystem, Truk Tak Perlu Ngetem di Pelabuhan Lagi

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 18 Mar 2021 17:02 WIB
Suasana aktivitas bongkar muat di Jakarta International Container Terminal, Jakarta Utara, Rabu (5/9/2018). Aktivitas bongkar muat di pelabuhan tetap jalan di tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpuruk. Begini suasananya.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Platform ekosistem logistik di Batam bernama Batam Logistic Ecosystem (BLE) baru saja diluncurkan sebagai pilot project dari ekosistem logistik nasional (National Logistic Ecosystem/NLE). Keberadaannya diharapkan dapat memfasilitasi importir dan eksportir dengan berbagai fitur logistik dari hulu hingga hilir, sehingga dari segi biaya lebih efisien.

Luhut mengatakan adanya BLE bisa menambah pendapatan negara. Pasalnya, dengan penyederhanaan sistem pembiayaan tersebut akan membuat pemasukan investasi ke Indonesia semakin besar.

"Dengan efisiensi maka penerimaan negara akan tambah. Seperti saya katakan misalnya kita mau menertibkan lego jangkar dari berapa belas kemarin, sekarang tinggal 6, sekarang kita kontrol, kita promosikan sehingga 81 ribu kapal itu, kalau kita bisa ambil 20% saja itu sudah kita mendapatkan penerimaan cukup besar untuk pembangunan republik ini," kata Luhut dalam launching BLE yang dilihat virtual, Kamis (18/3/2021).

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan dengan BLE dapat mempercepat proses logistik sehingga akan mengurangi waktu yang dibutuhkan oleh pengguna jasa dalam layanan Ship to Ship/Floating Storage Unit. Layanan yang sudah bisa dimanfaatkan adalah pemesanan kapal, pemesanan trucking, sampai dengan proses pembayarannya.

"Kapalnya masih di pelabuhan asal, kita sudah tahu datanya kapan akan mendarat, merapat, unloading dan dia butuh pengangkutan truknya kapan, itu semua ada dalam platform sehingga perusahaan nggak perlu ngetem di depan pelabuhan, sopirnya harus dikasih biaya untuk lembur, nungguin kapal yang belum tahu kapan unloadingnya," ucapnya.

Tak hanya untuk penataan logistik, adanya BLE juga diharapkan dapat menghindari adanya penyelundupan di Selat Malaka, Pesisir Timur, dan Batam. Selain itu diharapkan tidak ada lagi oknum yang mengharapkan imbalan dari adanya proses logistik ini.

"Kalau Indonesia mikirnya kapal datang, diperiksa-periksa bea cukai turun meriksa, BP Batam turun meriksa, abis meriksa turun dilamain karena sebetulnya dia minta sesuatu bukannya meriksa, itu kan nggak lucu. Bahkan sebelum meriksa sudah ditempel-tempel oleh berbagai instansi," tuturnya.

Sri Mulyani mengatakan adanya BLE dapat meningkatkan level kompetitif Batam. Pasalnya, selama ini kinerja ekonomi di daerah tersebut masih di bawah pertumbuhan ekonomi nasional, dengan adanya BLE diyakini ekonomi daerah akan tumbuh karena banyak investasi masuk.

"PR-nya bagaimana membangun Batam untuk bisa jadi sebuah destinasi investasi yang baik karena sejak 2015 pertumbuhan ekonomi Batam di bawah pertumbuhan ekonomi nasional dan tidak mungkin tumbuh kalau nggak ada investasi," tandasnya.

(aid/zlf)