BPKP-PPATK Keroyokan Lacak Pencucian Uang

Soraya Novika - detikFinance
Kamis, 18 Mar 2021 18:45 WIB
Direktur Ditreskrimum Polda Metro Jaya Nico Alfinta (kiri)  bersama kabid Humas Polda Metro Jaya Argo Yuwono (kanan)  saat pengungkapan kasus tindak pidana pencurian dan pencucian uang di Polda, Jakarta, Selasa (3/4)Ditreskrimum Polda mengungkap 3 kasus pencurian Data Elektronik (skimming) Oleh 4 Warga Negara Asing jaringan Internasional dengan korban bank Swasta. polisi mengamankan barang bukti berupa satu buah alat skimmer, satu buah spy cam, dua buah encoder, 10 unit hp, 116 kartu ATM, tiga laptop, satu unit motor Yamaha Nmax, satu unit mobil Hyundai I-10 dan uang tunai Rp 42 juta.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) masih menjadi masalah kejahatan ekonomi di Indonesia. Demi mencegah dan memberantas jenis kriminal satu itu, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) bertekad menjalin kerja sama.

Hal itu langsung diwujudkan keduanya dengan menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) terkait dengan pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Menurut Kepala PPATK Dian Ediana Rae mengatakan, MoU ini akan menjadi landasan bagi PPATK dan BPKP dalam melaksanakan kerja sama pencegahan dan pemberantasan TPPU.

"MoU ini cukup strategis untuk keduanya, apalagi BPKP memiliki informasi berupa data hasil pengawasan yang dapat dioptimalkan dalam pencegahan dan pemberantasan TPPU," ujar Dian dalam keterangan resminya yang diterima detikcom, Kamis (18/3/2021).

Ia melanjutkan, bahwa sebagai focal point dalam pencegahan dan pemberantasan TPPU, PPATK berkepentingan untuk melindungi stabilitas sistem perekonomian dan integritas sistem keuangan. Beberapa rencana kerja PPATK guna mendukung tujuan tersebut antara lain diwujudkan dalam bentuk bantuan kepada penegak hukum dalam berbagai pengungkapan perkara, termasuk monitoring penyaluran dana penanganan pandemi COVID-19. Bagi PPATK, kerja sama dengan BPKP akan menjadi sinergi positif dalam menjaga integritas pembangunan hingga ke berbagai daerah.

"Kerja sama dengan BPKP akan mempersempit ruang gerak pelaku kejahatan," tuturnya.

Sementara itu, Kepala BPKP Muhammad Yusuf Ateh mengatakan, kerja sama dengan PPATK, akan mendukung pengawasan yang dilakukan BPKP agar semakin efektif. Selain itu kata dia, penandatanganan MoU ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk PPATK dalam menunjang pelaksanaan tugas dan fungsinya.

"BPKP memiliki kompetensi dalam hal accounting dan punya unit audit investigatif yang dapat melakukan audit forensic sehingga dengan kerja sama ini diharapkan akan menambah kompetensi dalam menganalisis data-data penyimpangan," timpalnya.

Diketahui, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang menyebutkan bahwa tindak pidana pencucian uang tidak hanya mengancam stabilitas perekonomian dan integritas sistem keuangan, tetapi juga dapat membahayakan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Hubungan kerja sama PPATK dan BPKP bukanlah hal yang baru. Kolaborasi keduanya secara formal sudah dibangun sejak ditandatanganinya Nota Kesepahaman pada tahun 2007 silam. Nota Kesepahaman tersebut dijalin dalam rangka kerja sama pertukaran informasi dan penanganan kasus yang terindikasi pidana. Tercatat sejak tahun 2015 hingga 2020, PPATK telah menyampaikan 18 produk informasi, baik proaktif maupun berdasarkan permintaan BPKP dalam rangka audit investigasi.

Ruang lingkup MoU antara BPKP dan PPATK antara lain meliputi pertukaran informasi, bantuan tenaga ahli dan bantuan teknis, sosialisasi anti pencucian uang, pendidikan dan pelatihan, pengembangan sistem teknologi informasi, koordinasi pemeriksaan (audit), penelitian dan pengembangan, hingga penugasan pegawai.



Simak Video "PPATK Endus Peran Pencuci Uang Profesional di Kasus Korupsi"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)