Respons Impor Beras 1 Juta Ton, Sultan: Semoga Betul untuk Stok

Pradito Rida Pertana - detikFinance
Jumat, 19 Mar 2021 14:08 WIB
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, Senin (22/2/2021).
Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom: Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X
Jakarta -

Pemerintah berencana mengimpor beras 1 juta ton. Terkait rencana tersebut, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X berharap 1 juta ton beras betul-betul untuk stok agar tidak menimbulkan spekulasi harga beras.

"Jadi kalau saya 1 juta (ton beras yang mau diimpor pemerintah) itu saya tidak tahu persis, semoga saja 1 juta itu untuk stok," kata Sultan saat ditemui di Kompleks Kantor Gubernur DIY, Kemantren Danurejan, Kota Yogyakarta, Jumat (19/3/2021).

Menurut Sultan impor bukan berarti karena produksi beras nasional kurang, Namun untuk menjaga stabilitas stok.

"Dalam arti bukan produksinya turun tapi untuk stok, tapi dalam arti untuk stok itu tidak keluar kalau tidak dibutuhkan untuk tidak menimbulkan spekulasi harga beras. Kira-kira begitu," ucapnya.

"Semoga 1 juta itu berfungsi untuk stok itu. Kalau itu ya saya kira memang harus, karena kalau tidak ada stok ya harga pasti naik, karena permintaan lebih besar dari penawaran. Tapi ya saya tidak tahu persis, itu yang tahu Bulog itu," lanjut Ngarsa Dalem.

Menyoal ketersediaan beras di DIY terkait rencana impor beras oleh pemerintah, Sultan mengatakan jika produksi beras di DIY melebihi kebutuhan. Untuk itu, Sultan menilai DIY tidak perlu melakukan impor beras.

"Bukan perlu atau tidak ya, kalau DIY produknya melebihi kebutuhan. Jadi kalau DIY ini terjadi transaksi, yang dari DIY keluar dan yang dari keluar masuk. Ya karena namanya perdagangan beras," kata Sultan.

Diberitakan sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pemerintah berkomitmen untuk menjaga ketersediaan, termasuk stabilisasi pasokan dan harga komoditas pangan dalam negeri di tengah pandemi COVID-19.

Dalam paparan di rapat kerja Kementerian Perdagangan Airlangga menyebut untuk menjaga ketersediaan stok beras sebesar 1-1,5 juta ton, setelah adanya Bansos Beras PPKM, antisipasi dampak banjir, dan pandemi COVID-19 dilakukan upaya impor beras 500 ribu ton untuk CBP dan 500 ribu ton sesuai kebutuhan Bulog.

Kemudian penyerapan gabah oleh Bulog dengan target setara beras 900 ribu ton saat panen raya Maret sampai dengan Mei 2021 dan 500 ribu ton pada Juni sampai dengan September 2021.

"Komoditas pangan jadi penting, penyediaan beras 1-1,5 (juta) ton," kata Airlangga dalam paparannya, Kamis (4/3/2021).

Menanggapi hal tersebut, Menteri Perdagangan M Lutfi mengungkapkan untuk masalah beras sudah ditentukan oleh Menko Bidang Perekonomian. Impor beras ini akan digunakan sebagai iron stok atau barang yang disimpan di Bulog sebagai cadangan dan selalu ada.

"Jadi tidak bisa dipengaruhi panen atau apapun karena ini dipakai untuk iron stock, sudah disepakati dan diperintahkan. Waktu, tempat, dan harga ada di tangan saya," jelasnya.

Simak juga 'Tak Andalkan Impor, Jabar Suplai Daging Sapi dari NTB':

[Gambas:Video 20detik]



(hns/hns)