Kementan Bentuk Tim Terpadu untuk Bantu Jaga Harga Jual Gabah Petani

Erika Dyah Fitriani - detikFinance
Jumat, 19 Mar 2021 19:56 WIB
Petani di Banyuwangi tidak setuju dengan rencana pemerintah impor beras. Kebijakan tersebut dinilai sama dengan membunuh petani secara perlahan, karena harga gabah akan semakin rendah.
Foto: Ardian Fanani/detikcom
Jakarta -

Memasuki masa panen raya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meminta Perum Bulog untuk menyerap gabah petani secara maksimal. Terutama di tengah masa panen raya periode Maret-April 2021.

"Saya mendapatkan arahan dari Menteri Koordinator Perekonomian untuk bekerja sama dengan Perum Bulog dan hari ini saya sudah bersurat pada Kepala Bulog untuk maksimalkan penyerapan gabah, di lokasi panen untuk menjaga harga," jelas Syahrul dalam keterangan tertulis, Jumat (19/3/2021).

Diketahui, berdasarkan Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 5 Tahun 2015 Tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah, Perum Bulog mendapatkan penugasan khusus untuk melakukan pengadaan gabah atau beras untuk stok cadangan beras pemerintah.

Adapun pengadaan gabah atau beras tersebut mengacu pada ketentuan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Ketetapan HPP diberlakukan untuk menjaga harga gabah atau beras di tingkat petani tidak anjlok.

Oleh karena itu, Syahrul mengungkap pihaknya akan aktif menjaga harga jual gabah petani, salah satunya membentuk Tim Terpadu Gerakan Serap Gabah Petani. Ia menjelaskan pembentukan tim ini dituangkan dalam surat Menteri Pertanian Nomor 28/TP.100/M/03/2021.

"Kita bantu petani semaksimalnya. Saya meminta jajaran Kementerian Pertanian untuk membentuk Tim Terpadu Gerakan Serap Gabah Petani guna menstabilkan harga gabah di tingkat petani," tegas Syahrul.

Lebih lanjut, Syahrul menjelaskan bahwa Tim Terpadu ini terdiri dari sejumlah lembaga. Di antaranya Kementerian Pertanian, Perum Bulog, Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kodim, Polres, Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi), serta Komando Strategi Penggilingan Padi (Kostraling). Menurut Syahrul, tim ini nantinya akan membeli gabah di tingkat petani sesuai dengan HPP.

Berdasarkan laporan di lapangan, Syahrul mengatakan tim bentukannya ini telah mulai bekerja di beberapa wilayah. Seperti di Sragen, Jawa Tengah, dengan menyerap 17.580 ton gabah petani serta di Banten dengan total penyerapan mencapai 53 ribu ton, dan di sentra-sentra produksi padi lain.

"Langkah serap gabah ini akan dilakukan di seluruh wilayah Indonesia, sehingga penurunan harga akibat panen raya bisa diantisipasi dan dapat memenuhi cadangan beras pemerintah. Semoga dengan langkah ini harga gabah tidak anjlok lagi, dan petani bisa sejahtera. Itulah harapan kita semua," ungkap Syahrul.

Syahrul pun mengatakan dirinya akan fokus mengawal produksi dan peningkatan kesejahteraan petani serta tidak masuk pada isu impor.

(akn/hns)