Bahaya! Sapi Australia Terancam Hilang dari Pasaran

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 19 Mar 2021 22:35 WIB
MEANDARRA, AUSTRALIA - JANUARY 18: Maddie Stiller, Bonnie Penfold and Molly Penfold enjoy a morning break of freshly made scones and tea at Old Bombine on January 18, 2021 in Meandarra, Australia. COVID-19 and the recent Chinese export ban had an immediate and devastating impact on Queensland premium beef producer Four Daughters, a fourth-generation farming family with an almost entirely female team dedicated to a sustainable future of food production and care for their environment. Owned and operated by Dan and Karen Penfold and their four daughters Bonnie (23), Molly (21), Jemima (19) and Matilda (16), the Penfolds have over 100,000 acres of land across Meandarra and Yaraka in Western Queensland. A chance meeting in 2018 prompted the family to develop their own branded beef based around their four daughters who help run the farm and plan to one day take over operations from their parents.  After accepting an invitation to visit Wuhan, China, the Penfolds were in the early stages of exporting their Grain Fed Premium Black Angus Beef (boxed) to customers when the region was locked down in December 2019, soon to become known as the epicentre of the global coronavirus pandemic. A further setback came as the Penfolds were preparing cattle for export and China imposed bans on beef imports from Australia in May 2020. As the family look to secure new export regions for their beef, the Penfolds have reimagined their product for a local market and are now selling boxes of beef directly to domestic consumers and hope their paddock to plate model will help to build city-country connections and educate consumers about the next generation of farmers and graziers. (Photo by Lisa Maree Williams/Getty Images)
Foto: Getty Images/Lisa Maree Williams
Jakarta -

Jumlah sapi di Australia tercatat terus menurun dan terancam kehilangan posisi sebagai eksportir terbesar nomor dua di dunia. Hal ini karena banyaknya peternak yang terus mengirimkan sapi betina mereka ke rumah jagal dibanding memelihara sebagai hewan ternak.

Manager of Commodity Market Insights Thomas Elder Markets, Matt Dalgleish mengatakan saat ini memang dibutuhkan proses untuk pengembangbiakan sapi mulai dari anak sampai ke tahap penyembelihan.

"Kami harus terus meningkatkan hal itu, ini agar kami tak kehilangan pangsa pasar ekspor," kata dia dikutip dari Bloomberg, Jumat (19/3/2021).

Menurut dia industri daging sapi di Australia saat ini sedang mengalami masa yang sulit. Apalagi bencana kekeringan yang terjadi bertahun-tahun ini, membuat para peternak yang tak mampu membawa hewan-hewan mereka ke padang rumput terpaksa memotong ternak mereka.

Para peternak ini juga pesimistis dengan masa depan ramainya permintaan sumber protein alternatif yang digaungkan untuk mengatasi masalah lingkungan dan kesehatan. Memang saat ini banyak orang yang menggerakkan untuk mengonsumsi produk burger atau nugget yang berasal dari daging tiruan.

Harga Sapi di Australia ini biasanya mengikuti negara di Amerika bagian selatan. Namun kondisi kekeringan justru membuat pasokan semakin ketat dan menyebabkan kenaikan harga yang gila-gilaan dan tak pernah kembali normal. Apalagi nilai Real Brasil dan Peso Argentina yang lebih lemah dalam beberapa tahun terakhir juga sangat mempengaruhi pemasok daging sapi tersebut.

Dengan dolar Australia yang bernilai hampir 80 sen AS, produk Australia ini menjadi barang mahal untuk banyak importir. Bahkan, harganya telah melewati harga daging sapi AS yang sebelumnya terkenal paling mahal di dunia. Pemerintah memproyeksi AS dan Brasil bisa meningkatkan pengiriman daging sapi pada 2022-2023 ke pasar yang besar seperti China.

Tingginya harga daging sapi ini juga mempengaruhi pasar di Indonesia. Banyak pedagang yang mogok karena harga daging sapi Australia. Para pedagang ini meminta pemerintah agar mencari daging dari pemasok lain. Padahal Indonesia merupakan pasar ekspor sapi dan jeroan sapi terbesar di Australia.

Posisi Australia di pasar daging ini memang berisiko tinggi. Apalagi dengan adanya perjanjian perdagangan bebas. Dalgleish mengatakan situasi ini bisa memperburuk keadaan Australia. "Situasi ini bisa mempuas pasar lebih suka dengan produk AS," tambah dia.

Dia menyebutkan sapi Australia ini tak sama dengan sapi di AS. Sapi Australia kebanyakan memakan rumput dibandingkan biji-bijian. Perubahan iklim ini bisa menambah tekanan untuk proses pengembangan peternakan yang membutuhkan waktu cepat.

Masalah kekeringan yang tak kunjung usai, kemudian ditambah cuaca ekstrem yang lebih sering terjadi ini harus bisa diantisipasi. Karena penambahan sapi-sapi sangat dibutuhkan ketika padang rumput sudah mulai hijau kembali.

"Australia diprediksi kembali mengalami kekeringan dalam beberapa tahun ke depan. Kita tak punya banyak waktu untuk kembali memelihara dan mengembangkan 28 - 29 juta ekor dan kemudian anda (peternak) terjebak lagi, tergantung berapa lama perkiraan kekeringan ini terjadi," jelas dia.

(kil/hns)