Mendag & Buwas Tak Satu Suara soal Stok hingga Impor Beras

Soraya Novika - detikFinance
Sabtu, 20 Mar 2021 07:00 WIB
Muhammad Lutfi Komisaris Utama Medco Energi
Foto: Wisma Putra; Dirut Perum Bulo Budi Waseso (Buwas)
Jakarta -

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi dan Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso atau yang akrab disapa Buwas beda penilaian soal stok hingga impor beras. Lutfi menilai impor beras diperlukan karena ada kekhawatiran hasil panen raya meleset dari prediksi. Pasalnya, selama masa panen raya kali ini yang berjalan selama Maret-April, masih sesekali dibarengi dengan musim hujan.

Kondisi itu bisa membuat banyak gabah tak bisa di-stok jadi beras di Perum Bulog. Sebab, Perum Bulog tak bisa menyimpang gabah yang basah.

Lutfi menjelaskan stok beras di Perum Bulog saat ini adalah yang terendah sepanjang sejarah. Sampai Maret ini, stok beras di Perum Bulog tak mencapai 500.000 ton. Padahal, seharusnya di Perum Bulog itu tersedia stok antara 1-1,5 juta ton beras setiap tahunnya.

"Stok Bulog kurang dari 1 juta ton. Menurut Dirut Bulog ada beras impor 2018 yang sudah turun mutu. Menurut hitungan saya yang turun mutu dari 2018 itu kira-kira 270.000 ton jumlahnya. Jadi yang sudah dikatakan turun mutu itu 160.000 ton, jadi ada 120.000 ton lagi. Jadi stok akhir Bulog yang kira-kira 800.000 ton dikurangi dengan stok impor 2018 yang 300.000 jadi stok Bulog hanya, mungkin tidak mencapai 500.000 ton.," ujar Lutfi dalam konferensi pers virtual, Jumat (19/3/2021).

"Ini adalah salah satu yang paling rendah dalam sejarah Bulog. Jadi Anda bisa tahu bagaimana rasa hati saya ngilunya," sambung Lutfi.

Sampai saat ini pun, Bulog baru mampu menyerap sekitar 85.000 ton beras dari hasil panen raya. Padahal seharusnya, Bulog harus bisa menyetok 400.000-500.000 ton beras untuk mencapai standar stok ideal 1 juta ton tadi.

Hal inilah yang menjadi pertimbangan pemerinah berencana impor beras yang belakangan heboh diperdebatkan publik. Lalu, bagaimana penilaian Buwas terhadap impor dan stok beras

Menurut Buwas dia belum tentu menjalankan impor beras yang direncanakan 1 juta ton. Sebab, untuk tahun ini, tidak terjadi kemunduran masa panen raya seperti tahun lalu. Masa panen tahun ini terjadi pada Maret-April, sehingga estimasinya, Bulog dapat menyerap sebanyak 390.800 ton beras Cadangan Beras Pemerintah (CBP).

Sejauh ini saja, stok beras Bulog sudah mencapai 883.585 ton yang terdiri dari beras CBP sebanyak 859.877 ton dan beras komersial sebanyak 23.708 ton. Artinya, setelah panen raya, stok CBP Bulog pada akhir April di atas 1 juta ton beras dan jumlah itu sudah memenuhi CBP per tahun, sehingga tidak diperlukan lagi impor beras.

"Prinsipnya kami mengutamakan produksi dalam negeri untuk CBP walaupun kami mendapatkan tugas impor (beras) 1 juta itu belum tentu kami laksanakan karena kami tetap prioritaskan produksi dalam negeri yang puncaknya Maret-April," ujar Buwas dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI, Senin (15/3/2021).

Buwas merinci, Bulog masih memiliki stok beras impor dari 2018 lalu. Adapun dari total pengadaan sebanyak 1.785.450 ton beras, masih tersisa 275.811 ton beras belum tersalurkan. Dari jumlah tersebut, 106.642 ton di antaranya merupakan beras turun mutu.

(hns/hns)