Budidaya Mudah & Harga Jual Tinggi, Bisnis Ikan Nila Banyak Dilirik

Jihaan Khoirunnisaa - detikFinance
Sabtu, 20 Mar 2021 15:50 WIB
Budidaya ikan nila
Foto: dok. KKP
Jakarta -

Nila menjadi salah satu komoditas perikanan yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat saat ini. Seperti halnya yang dilakukan Susanto, pembudidaya nila asal Sleman, Yogyakarta. Menurutnya, selain perawatan yang praktis, ikan air tawar tersebut punya nilai jual yang tinggi.

Ikan nila termasuk mudah untuk dibudidayakan karena memiliki risiko kematian kecil. Pengelolaan kolam-kolam budidaya nila juga tidak membutuhkan banyak pekerja, sehingga bisa dilakoni secara mandiri.

"Tertarik budidaya nila karena praktis. Kemudian risikonya tidak terlalu besar, tenaganya juga enggak begitu banyak. Itu poin utama dari budidaya ikan disini. Ikan nila paling gampang untuk dibudidayakan karena risiko kematiannya kecil," ujar Susanto dalam keterangan tertulis, Sabtu (20/3/2021).

Diakui Susanto, dirinya telah menekuni budidaya nila sejak tahun 1998. Kini, usaha yang dirintisnya bersama dengan tujuh rekannya yang tergabung dalam Kelompok Budidaya Mina Taruna Garongan berkembang pesat. Kolam yang semula berjumlah delapan menjelma menjadi 104 titik. Begitu pula dengan anggota kelompok yang bertambah menjadi 29 orang.

Susanto mengatakan, untung yang didapat terbilang tinggi. Dari setiap panen, dia bisa mengantongi hingga Rp 15 juta per kolam. Sedangkan anggota kelompok di rentang Rp 5 sampai 8 juta.


Kendati demikian, adanya hantaman pandemi Corona diakuinya sempat mempengaruhi usaha nila konsumsi yang dilakoni. Ancaman naiknya harga pakan hingga hasil panen yang tak terserap, sempat membuatnya khawatir. Namun, kekhawatiran itu berangsur-angsur hilang seiring permintaan yang terus datang dan harga pakan yang semakin stabil.

"Ikan nila produksi kami sudah dipasarkan di berbagai tempat, baik secara eceran maupun skala besar. Pasarnya meliputi berbagai daerah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah," tuturnya.

Susanto menilai, hasil panen yang maksimal dan bermutu tidak lepas dari peranan inovasi dan teknologi. Berbekal pengalaman berimprovisasi, akhirnya Susanto menemukan sistem penggunaan kincir untuk meningkatkan produksi nila-nya. Teknologi kincir itu dinamai 'sibudidikucir'.

"Saya banyak dibantu oleh pemerintah seperti pembinaan, pendampingan, dan berbagai bentuk bantuan seperti kincir, bantuan induk, dan pelatihan. Saya berharap dukungan ini terus berlanjut," jelasnya.

Pengembangan perikanan budidaya dalam negeri memang tengah digenjot pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyebut potensi lahan budidaya di Indonesia masih sangat luas, baik untuk komoditas air tawar, payau, juga laut. Kemudian tren konsumsi hasil perikanan yang kian meningkat membuat subsektor ini menjanjikan nilai ekonomi yang tinggi.

Sakti mengatakan, saat ini pihaknya tengah menyusun sejumlah program pengembangan perikanan budidaya ini, di antaranya pembangunan kampung-kampung budidaya, seperti Kampung Lele, Udang, Patin, hingga Kampung Kerapu. Dalam prosesnya, pemerintah daerah maupun elemen masyarakat juga turut dilibatkan.


Di samping itu, terdapat program Millenial Shrimp Farm (MSF) atau tambak udang milenial yang pengelolaannya sebagian besar menggunakan teknologi. MSF dinilai cocok bagi anak muda yang ingin berwirausaha.

"Kita ajak mahasiswa, anak-anak muda kita jadi pengusaha muda di sektor kelautan dan perikanan," katanya.
Dalam rangka mendorong anak muda menjadi pelaku usaha, KKP melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) menerapkan strategi pendidikan dengan melaksanakan program kewirausahaan yang terstruktur di seluruh satuan pendidikan di bawah naungan KKP.

Diungkapkan Sakti, KKP baru-baru ini meresmikan Pusat Inkubasi Bisnis (Business Incubation Center) di Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP). Tujuannya yakni untuk memberikan bekal kepada peserta didik agar dapat memahami konsep kewirausahaan, memiliki karakter wirausaha, mampu memanfaatkan peluang, dan mendapatkan pengalaman langsung berwirausaha. Sekaligus membangun lingkungan sekolah yang berwawasan kewirausahaan.

Sakti mengklaim, sudah banyak hasil dari program kewirausahaan yang digagas BRSDM KKP. Belum lama ini, peserta didik melakukan panen 3 ton udang vaname di Tambak Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik (Busmetik) Politeknik AUP Kampus Serang dengan masa pemeliharaan 100 hari.

(prf/ega)

Tag Terpopuler