Industri Batik Minta Pematenan Logo Batik
Rabu, 01 Mar 2006 16:20 WIB
Jakarta - Untuk menghindari aksi penjiplakan yang merugikan, pengusaha batik tulis menuntut pemerintah segera membuat merek hukum batik tulis (batik mark).Banyaknya aksi plagiat telah membuat pasar batik tulis tergeser oleh batik printing yang harganya lebih murah. Logo ini, nantinya akan ditenderkan tahun ini dan akan diimplementasikan secepatnya."Logo ini akan nantinya bisa dipasang diseluruh batik tulis asal Indonesia dengan bertuliskan batik Indonesia untuk mengehindari penjipakkan," kata perancang batik tulis Iwan Tirta.Hal itu diungkapkan Iwan dalam dialog dengan pengusaha batik nasional di Gedung Departemen Perindustrian (Depperin), Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (1/3/2006).Iwan mengaku dirinya sering menjadi korban plagiator, tidak hanya dilakukan oleh kalangan dalam negeri tapi juga bangsa lain seperti Amerika dan Italia."Saya sudah 40 tahun merancang tapi belum ada diimplementasikannya batik mark karena dihalangi oleh para penjiplak," keluh Iwan.Surutnya pasar batik tulis juga karena pameren batik nasional dan internasional kurang efektif, karena pemerintah tidak mau menyerahkan ke tenaga profesioanal.Iwan juga menjelaskan, selama ini belum ada batik tulis yang diekspor, karena yang djual melalui ekspor hanya batik printing dalam bentuk kodian."Lihat saja batik tulis di Pekalongan banyak yang sudah gugur," ujarnya.Sementara perancang batik lainnya Komaruddin Kudiya, pemilik batik Komar, mempertanyakan sejauh mana simulasi pelanggaran hak cipta apabila produknya telah dipatenkan."Saya pernah menjual 5 motif batik, tapi 4 bulan kemudian motif saya tersebut sudah nongol di batik printing dalam pameran batik. Kita minta jaminan kepastian hukum sehingga kalau ada yang menjiplak padahal produknya sudah dipatenkan bisa diklaim," paparnya.Sementara pemerhati batik, Joop Ave mengatakan, batik Indonesia harus segera dipatenkan sebagai proteksi kekayaan intelektual Indonesia. Apalagi saat ini sudah ada 3000-4000 motif ciptaan dalam negeri.Menanggapi hal itu, Dirjen Industri Kecil dan Menengah Depperin, Sakri Widiantono menyatakan, akan mendukung program pematenan batik dengan pemasangan batik mark. Ekspor batik printing tahun 2005 mencapai US$ 350 juta.
(ir/)











































