Pentingnya Etalase Bisnis di Era Serba Digital

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 25 Mar 2021 09:44 WIB
Jualan Makanan Online Tanpa Izin di India Didenda Rp 100 Juta
Foto: iStock
Jakarta -

Etalase atau tampilan suatu toko harus dibuat semenarik mungkin agar para konsumen tertarik untuk melihat dan membeli suatu barang dagangan. Etalase yang menarik biasanya dilakukan oleh para toko konvensional.

Di era serba digital seperti sekarang, ternyata toko online pun diharuskan memiliki etalase yang kekinian. Maksudnya, tampilan toko online yang berada di media sosial, e-commerce pun harus dibuat semenarik mungkin.

Kreator digital, Syammas P. Syarbini mengatakan etalase yang menarik untuk toko online menjadi penentu suatu produk itu laku atau tidak. Sebab, dengan etalase yang menarik bisa menarik pembeli dalam 3 detik saat melihat beranda atau feed toko online tersebut.

"Tentunya kalau etalase untuk online, digital yang menarik itu harus meng-grab 3 detik pertama, gimana caranya meng-grab 3 detik pertama waktu costumer atau audiens visit ke account kita dengan feed atau Instagram yang rapi. Gimana cara membuatnya? salah satunya dengan tools canva," kata Syammas dalam program d'Mentor yang dikutip, Kamis (25/3/2021).

Untuk membuat etalase toko online yang menarik, Syammas mengatakan para pelaku usaha bisa memanfaatkan aplikasi Canva. Aplikasi ini bisa membuat berbagai jenis konten dagangan yang menarik saat diunggah pada beranda atau feed.

Namun sebelum pada titik tersebut, dia mengatakan para pelaku usaha harus menentukan terlebih dahulu karakter dari produk yang akan dijualnya. Selain karakter, nuansa warna dalam sebuah produk pun menjadi hal yang begitu penting.

Dia mencontohkan seperti Apple, dalam laman resminya sangat kental dengan warna hitam yang memiliki arti eksklusif, mahal, hingga mewah.

"Tanpa Apple bilang mengatakan dia brand ternama, brand mahal dengan menggunakan hitam orang tahu wah ini business class, itu pesan dari sebuah warna," ujarnya.

Selanjutnya, para pelaku usaha online juga harus bisa menciptakan nuansa informasi atau edukasi seputar produk yang akan dijualnya. Tujuannya, agar para konsumen yang melihat ke toko merasa tepat dan nyaman.

"Sekarang bukan jaman b-to-b, juga bukan zaman b-to-c tapi h-to-h heart-to-heart, dari hati ke hati. Kalau produk kita memiliki karakter, nanti audiens membeli seperti dengan orang, langsung bertemu dengan orang langsung padahal di sosial media, kalau kita sudah dapetin hati mereka akan loyal dengan kita," katanya.

Dia menyadari jika pemilihan warna serta jenis produk dagangan bisa sama dengan para kompetitornya. Untuk mengatasi hal tersebut bisa diatasi dengan riset. Dia mencontohkan sebuah produk minuman, setiap pelaku bisa riset untuk menentukan jenis produk sesuai dengan usia para konsumennya.

Dengan begitu produk minuman yang sama namun punya karakter, serta target yang berbeda.

"Dengan riset market kecil-kecilan dulu ke teman, saudara, keluarga, terus nanti muncul oh yang ini suka, yang dewasa sukanya lebih pahit, yang anak muda sukanya lebih manis, itu nanti bisa dicocokkan," ungkapnya.

(hek/zlf)