Pasar Mainan Indonesia Pingsan

Diserbu Produk Cina

Pasar Mainan Indonesia Pingsan

- detikFinance
Kamis, 02 Mar 2006 17:36 WIB
Jakarta - Serbuan produk Cina benar-benar menggoyang seluruh sektor pasar di Indonesia. Indonesia yang tahun 1991 sempat menjadi tujuan investasi industri mainan kini harus menyerah karena pasarnya telah didominasi produk Cina.Collaps-nya pasar mainan Indonesia, terlihat sejak tahun 2000. Saat itu satu per satu perusahaan mainan rontok. Dari 70 perusahaan yang muncul pada tahun 1991 sampai saat ini hanya tinggal 15 perusahaan terdiri 10 perusahaan lokal dan 5 perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA). Perusahaan PMA yang bertahan itu diantaranya Mattel yang merupakan produsen boneka Barbie.Jika tidak mendapat perhatian pemerintah, dalam dua tahun kedepan Indonesia dipastikan telah menjadi net importir mainan."Penurunan ekspor terjadi sejak tahun 2000, impor dari Cina meningkat dua kali lipat sehingga dari 70 perusahaan di Indonesia banyak yang memilih relokasi ke Cina," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia (APMI) Widjanarko Tjokroadisumanto.Hal itu diungkapkan Widjanarko, usai bertemu dengan Menteri Perindustrian Fahmi Idris, di Gedung Departemen Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (2/3/2006).Perusahaan yang melakukan relokasi pabrik ke Cina karena alasan upah minimum regional (UMR) yang murah, fasilitas yang nyaman dari pemerintah pusat dan daerah sehingga biaya produksinya murah.Kondisi seperti itu, ungkap Widjanarko, tidak ada di Indonesia sehingga teknologi tidak bisa berkembang. Hartati Hartono, Direktur PT Royal Puspita, produsen boneka dengan merek Plush Toys Manufactures, mengatakan, hampir 90 persen pasar mainan dalam negeri dikuasai Cina. Dari jumlah itu 70 persen dalam bentuk selundupan. Indikasi besarnya penyelundupan ini, mengingat bea masuk yang sebesar 30 persen, sedangkan harga yang ditawarkan sangat murah. "Tidak mungkin harga menjadi begitu murah kalau tidak diselundupkan. Meski kualitas buruk masyarakat lebih pilih produk selundupan" keluh Hartarti .Melihat kondisi ini, Hartarti mengaku, pihaknya hanya minta insentif dari pemerintah dengan memberantas penyelundupan. Menurutnya, meski produk Cina bukan dianggap pesaing tapi terbukti banjirnya produk asal negeri tirai bambu ini telah mematikan produsen mainan lokal."Kita sudah tak punya harapan. Kondisinya sulit mungkin dua tahun lagi dari 15 perusahaan yang ada akan mati semua. Ini mengakibatkan kerugian per tahun mencapai US$ 200-300 ribu karena order khususnya dari AS dan Uni Eropa terus menurun," jelas Hartarti.Menanggapi hal tersebut, Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka (ILMTA) Depperin Anshari Bukhari menyatakan, pemerintah akan menerapkan SNI untuk produk impor mainan.Hal ini untuk menjaga kualitas mainan, yang jangan sampai harga yang terlalu murah mengabaikan kualitasnya.Data Departemen Perindustrian, pada tahun 2005 nilai ekspor mainan mencapai US$ 171,061 juta, dengan produksi per tahun 507.231.897 buah yang menyerap tenaga kerja 65.928 orang.Negara tujuan ekspor mainan Indonesia adalah AS, Jerman, Perancis, Italia, Inggris, Belanda, Switzerland, Kanada, Jepang, Australia, Saudi Arabia, Swedia, Malaysia, Singapura, Hongkong, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Filipina, Vietnam, India, Mexico dan Argentina.Dari seluruh pasar didunia saat ini Cina menguasai 72 persen pasar mainan. (ir/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads