Salatiga Jadi Kota Vanili, Bamsoet: Momentum Berdayakan Ekonomi

Yudistira Imandiar - detikFinance
Kamis, 01 Apr 2021 14:24 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo
Foto: MPR
Jakarta -

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mencanangkan Kota Salatiga sebagai Kota Vanili. Sejak zaman kolonial dulu, Kota Salatiga merupakan salah satu daerah penghasil vanili terbesar di Indonesia.

Menteri Pertanian telah memerintahkan Dirjen Tanaman Pangan untuk menyalurkan 10 ribu bibit vanili untuk masyarakat Salatiga. Langkah Kementerian Pertanian tersebut diapresiasi Ketua MPR RI Bambang Soesatyo. Menurut Bamsoet, sapaan akrabnya, hal itu akan memicu pertumbuhan ekonomi masyarakat.

"Kementerian Pertanian juga telah membuat program Gerakan Ekspor Tiga Kali Lipat (Gratieks), dengan memasukkan vanili sebagai salah satu komoditas unggulan ekspor hasil perkebunan, bersama kopi, kelapa, dan lada," ungkap Bamsoet dalam keterangannya, Kamis (1/3/2021).

Bamsoet mengulas di tahun 1980-an vanili pernah berjaya karena memiliki harga jual fantastis. Masyarakat pun menjuluki vanili sebagai 'emas hijau'. Kejayaan tersebut, kata Bamsoet, harus dibangkitkan kembali.

"Pencanangan sebagai Kota Vanili merupakan momentum untuk memberdayakan perekonomian masyarakat Salatiga dengan basis pertanian vanili. Mengingat kondisi geografi Kota Salatiga di ketinggian 450-825 meter di atas permukaan laut (mdpl), serta berada di daerah cekungan kaki Gunung Merbabu dan gunung-gunung kecil, yaitu Gunung Telomoyo, Gunung Ungaran, Gunung Payung, dan Gunung Rong. Menyebabkan Salatiga beriklim tropis dengan suhu udara rata-rata antara 23-24 celcius. Sangat cocok untuk tanaman vanili," papar Bamsoet.

Ia menambahkan, menurut Walikota Salatiga, saat ini tanaman vanili yang sudah dibudidayakan penduduk mencapai 8.900 batang, dengan luas tanam lahan mencapai 3,74 hektare. Budidaya vanili di Kota Salatiga tersebar di Kelurahan Kalibening, Katman Kidul, Bugel, Kumpulrejo, Kutowinangun, Randuacir, dan Dukuh. B

"Bahkan Pemerintah Kota Salatiga juga membuat program, satu rumah sepuluh tanaman vanili," imbuh Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini mengungkapkan sebagai komoditas unggulan, vanili mempunyai nilai ekonomi sangat tinggi. Tahun 2020 lalu harga jualnya menembus Rp 4 hingga Rp 6 juta per kilogram vanili kering. Menempatkan Indonesia sebagai pengekspor vanili terbesar kedua di dunia setelah Madagaskar.

"Bahkan kandungan vanilin dalam tanaman vanili produk Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia, mencapai 3,9%. Lebih tinggi dari kandungan vanili produksi Madagaskar yang hanya sebesar 2%," urai Bamsoet.

Bamsoet menjabarkan pangsa pasar vanili sangat menjanjikan. Sebagian besar importir vanili produksi Indonesia adalah negara-negara maju seperti Amerika (47,73%), Prancis (18,10%), dan Jerman (9,31%).

"Yang masih menjadi tantangan adalah optimalisasi pengolahan produk vanili untuk pasar global, sehingga produk yang diekspor adalah produk yang mempunyai nilai tambah. Tantangan yang tidak mudah, namun dengan gotong royong seluruh elemen bangsa, pasti kita bisa mewujudkannya," tandas Bamsoet.



Simak Video "Bambang Soesatyo Jaga Keseimbangan Otak dengan Otomotif"
[Gambas:Video 20detik]
(fhs/hns)