Jaga Harga Gabah, Kementan Koordinasi dengan Bulog & BUMN Pangan

Erika Dyah Fitriani - detikFinance
Kamis, 01 Apr 2021 18:19 WIB
Warsidi petani di Klaten mengeringkan hasil panennya
Foto: Achmad Syauqi/detikcom
Jakarta -

Kementerian Pertanian (Kementan) antisipasi kemungkinan terjadinya kontraksi harga gabah yang lebih dalam. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi penurunan harga gabah pada musim panen raya tahun 2021 di tengah naiknya Nilai Tukar Petani (NTP) bulan Maret 2021.

Diketahui, penurunan ini menyebabkan NTP tanaman pangan bulan Maret 2021 tertekan. BPS juga melaporkan harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani turun 7,85% dan harga GKP di penggilingan turun 7,86% dibanding bulan sebelumnya.

Menyikapi hal ini, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri mengatakan pihaknya terus menjalin koordinasi dengan Perum Bulog untuk meningkatkan penyerapan gabah petani. Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan BUMN Pangan seperti RNI dan Pertani.

"Kita ingin semua pihak yang terkait ini terus melakukan penyerapan gabah, menyelamatkan harga di tingkat petani, sekaligus melakukan penjajakan ekspor beras ke negara tetangga, seperti Brunei, Timor Leste, dan Papua Nugini," ujar Kuntoro di Jakarta dalam keterangan tertulis, Kamis (1/4/ 2021).

Kuntoro menambahkan Kementan bersama Persatuan Penggilingan Padi (Perpadi) serta unsur-unsur lainnya terus memantau perkembangan panen raya di sejumlah daerah dan melakukan penyerapan gabah secara masif.

"Kita juga imbau pemerintah daerah (Provinsi dan Kab/kota) melalui Kementerian Dalam Negeri untuk melakukan pembelian beras di petani. Beras tersebut nantinya dapat digunakan sebagai Cadangan Beras Daerah, dan dijual ke ASN setempat," jelasnya.

Lebih lanjut, Kuntoro menjelaskan Kementan saat ini tengah memaksimalkan bantuan alat pengering gabah yang tersebar di beberapa penggilingan padi (RMU). Ia menyampaikan hal ini dilakukan guna menjaga dan meningkatkan kualitas gabah agar lebih tahan lama.

Ia berharap adanya upaya ini dapat meningkatkan harga gabah petani pada peta pasar nasional.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) pada bulan Maret 2021. Kedua indikator peningkatan kesejahteraan petani ini tercatat mengalami kenaikan masing-masing sebesar 0,18% dan 0,14% yang dihitung berdasarkan data bulanan (m to m).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Setianto mengatakan NTP bulan Maret 2021 naik 0,18% dibanding bulan Februari 2021 (103,10 menjadi 103,29). Ia menilai peningkatan NTP dipicu oleh naiknya NTP sejumlah sektor antara lain hortikultura (1,80%), perkebunan (3,08%), dan peternakan (0,03%). Sementara itu, lanjutnya, NTP Tanaman Pangan semakin tertekan dengan angka penurunan 1,83%.

(akn/hns)