Harga Jual Jagung di Petani Anjlok, Apa Solusi Kemendag?

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 04 Apr 2021 21:45 WIB
Pandemi Corona tahun ini membuat warga tidak bisa merayakan tahun baru seperti tahun sebelumnya. Hal ini berdampak pada para pedagang jagung.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Asosiasi Pengusaha Desa Indonesia (APEDI) menyambangi Kementerian Perdagangan beberapa waktu yang lalu. Mereka mengeluhkan harga jual jagung di tingkat petani yang anjlok.

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengaku pihaknya mendiskusikan beberapa hal yang menjadi perhatian utama dari APEDI, salah satunya isu harga jagung di tingkat petani yang cukup rendah saat ini.

Menanggapi hal tersebut, Jerry menawarkan solusi yang selama ini juga selalu didorong oleh Kemendag, yakni pemanfaatan Sistem Resi Gudang (SRG) di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

"Kami dari Kemendag, Bapak Menteri Perdagangan dan saya, serta Kepala Bappebti, tidak akan bosan-bosannya menawarkan kepada para petani untuk memanfaatkan yang namanya SRG karena itu banyak manfaatnya," ucapnya dilansir dari keterangan tertulis, Minggu (4/4/2021).


Menurut SRG memiliki beberapa manfaat. Pertama, petani bisa menyimpan komoditinya saat panen raya dan melakukan tunda jual untuk memperoleh harga yang lebih tinggi serta menghindari jeratan tengkulak. Kedua, resinya dapat digunakan sebagai agunan untuk pembiayaan dari berbagai bank baik di daerah maupun nasional.

"Dan ketiga yang penting juga, SRG ini akan membantu ketersediaan pasokan dan menstabilkan harga. Jadi, bahkan bukan hanya jagung, tapi banyak sekali komoditi yang bisa disimpan di 123 gudang SRG yang ada saat ini. Dan kita harapkan juga kalau bisa komoditi olahan yang bernilai tambah yang disimpan di situ," tambahnya.

Dorongan untuk memanfaatkan SRG ini disambut baik oleh Sekjen APEDI, Mochamad Sabdo, yang menyampaikan bahwa saat ini APEDI, memiliki lahan seluas 2000 hektar di Purwakarta, yang rencananya akan digunakan untuk percontohan SRG dan pengolahan berbagai komoditi, seperti kelapa, jagung premium, dan sorgum.

Jerry juga menyampaikan bahwa bentuk kehadiran pemerintah dalam mengatasi harga jagung yang rendah juga dapat dilakukan dengan mempertemukan petani dengan pengusahan pakan ternak, maupun asosiasi retail untuk menyerap produksi.

Isu yang sama pentingnya yang juga mengemuka dalam pertemuan yaitu soal akses pasar produk pertanian Indonesia ke luar negeri. Relatif terbatasnya akses petani di desa terhadap informasi ekspor dapat diselesaikan salah satunya melalui koordinasi antara APEDI dengan Kemendag. Terkait ini, Jerry menekankan bahwa kunci keberhasilan ekspor ialah ketersediaan pasokan yang kontinu dan business matching dengan para pembeli di luar negeri.

"Kami sadar bahwa mendorong petani untuk ekspor ke luar negeri bukanlah hal mudah dan perlu concerted effort dari seluruh pemangku kepentingan. Di kami sendiri, Kemendag setiap tahunnya menggelar event Trade Expo Indonesia. Tahun ini karena pandemi akan diselenggarakan secara virtual tanggal 24-26 Oktober 2021. Di sinilah kesempatan bagi para petani dan pelaku usaha di desa untuk memamerkan bermacam produk yang dihasilkan dan diolah di daerah, dan kemudian menegosiasikan transaksi dengan buyers yang ada di luar negeri. Saya yakin selama produk yang kita tampilkan itu yang terbaik dan kompetitif, buyers pasti akan tertarik membeli,"kata Jerry.

Tidak hanya business matching, Jerry juga mempersilakan para calon eksportir untuk memanfaatkan berbagai fasilitas pelatihan yang disediakan Kemendag untuk ekspor, termasuk negosiasi harga dengan pembeli di luar negeri.



Simak Video "Manfaatkan Aset, Pemkab Ciamis Launching Demplot Penanaman Jagung Kristal"
[Gambas:Video 20detik]
(das/dna)