Mau 'Main' Forex? Baca Dulu Saran Ini Biar Nggak Terlilit Utang

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 08 Apr 2021 20:45 WIB
Pergerakan Dolar AS
Ilustrasi/Foto: Tim Infografis, Mindra Purnomo
Jakarta -

Pegawai KPK nekat mencuri dan menggadaikan barang bukti emas batang. Pelaku melakukan aksi jahat tersebut karena terlilit utang setelah 'bermain' valas (valuta asing) atau beken disebut forex (foreign exchange)

Belajar dari kasus tersebut, bagi yang ingin berbisnis atau masuk ke forex harus mengetahui segala macam informasinya. Mulai dari cara kerja produk tersebut hingga risikonya.

Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho mengatakan sebelum memulai bisnis atau investasi forex ada baiknya mengenali profil diri sendiri dalam menerima risiko.

Dia mengatakan, ada tiga profil masyarakat dalam menerima faktor risiko. Pertama, agresif, mereka adalah orang-orang yang cocok untuk produk investasi berisiko tinggi. Kedua, konservatif, mereka adalah orang-orang yang cocok untuk produk investasi berisiko rendah. Ketiga, moderat, mereka adalah orang-orang yang berada di tengah antara agresif dan konservatif.

"Kalau kita mau investasi itu apa hal-hal yang harus kita perhatikan sebelum memulai investasi," kata Andy saat dihubungi detikcom, Kamis (8/4/2021).

Untuk forex, menurut Andy, merupakan produk yang berisiko tinggi dengan modal yang cukup besar.Selain itu imbal hasilnya juga besar, begitu juga dengan dengan risiko kerugian.

"Tapi kita harus pantau terus nggak boleh meleng pergerakannya. Kalau di pasar saham kan kita bisa hold dulu saham yang kita beli bisa di hold sampai harganya naik. Tapi kalau di forex, itu nggak ada cerita hold berhari-hari, begitu kita sudah lost, turun nilainya, jadi rugi," ujarnya.

Oleh sebab itu bagi yang ingin masuk forex harus memahami dulu risiko dan produk forex. Jangan sampai cuma tergiur dengan imbal hasil yang besar.

"Pastikan tidak cuma sekedar ikut-ikutan dan punya modal besar, mentang-mentang sultan kemudian ada tawaran investasi dan imbal hasilnya terdengar menggiurkan, kita harus tahu produk ini seperti apa, cara dapat mendapatkan keuntungan bagaimana, potensi kerugiannya apa saja, berapa lama uang bisa dimasukan dan ditarik kembali," ungkapnya.

Sementara itu, perencana keuangan dari Finansia Consulting Eko Endarto menilai forex berisiko tinggi.

"Forex itu ada 2, ada yang fisik, kaya jual beli fisik, ada lagi yang tidak fisik, digital, yang lebih risiko pakai digital karena masuk derivatif," kata Eko.

Dari Forex bisa mendapatkan margin yang cukup besar. Namun jika salah perkiraan, maka berubah menjadi rugi. Ditambah lagi jika salah kalkulasi salah maka dana yang kita setor merosot, dan perlu disuntik kembali.

"Pasar derivatif itu ada unsur margin, dan itu risikonya. Kalau salah memperkirakan maka kita harus menutupi jaminan terus, karena kita perkirakan harga naik tapi harga turun, ketika berbalik maka jaminan berkurang maka harus nambah jaminan," kata Eko.

(hek/hns)