Kontraktor Lokal Sebut Ada BUMN yang Serakah, Benarkah?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 09 Apr 2021 10:50 WIB
Indonesian Rupiah - official currency of Indonesia
Foto: Getty Images/iStockphoto/Yoyochow23
Jakarta -

Fenomena vendor atau kontraktor lokal 'dizalimi' BUMN karena molornya pembayaran proyek ternyata sudah menjadi penyakit lama. Para vendor lokal yang menyelesaikan proyek dari BUMN harus menanti pembayaran hingga bertahun-tahun.

Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Andi Rukman N Karumpa, salah satu penyebab banyaknya vendor lokal tak kunjung dilunasi pembayarannya setelah menyelesaikan proyek BUMN ialah keserakahan perusahaan pelat merah itu sendiri.

"Ada 1-2 BUMN yang arus kasnya masih baik. Ada juga beberapa BUMN yang serakah. Sudah arus kas tidak bagus, caplok kiri-kanan, banting harga, ya kondisinya seperti itu," kata Andi kepada tim Blak-blakan detikcom, Kamis (8/4/2021).

Namun, penyebabnya tak hanya itu. Menurut Andi, banyak BUMN yang harus menerima penugasan proyek infrastruktur meski arus kas perusahaan tak sepenuhnya memadai.

"Jadi menurut saya, karena cashflow BUMN yang terus dipacu mengerjakan infrastruktur, menurut saya karena itu. Misalnya, hei Anda BUMN A kerjakan proyek ini, BUMN B kerjakan proyek pasar ini, BUMN C kerjakan proyek kantor perwakilan atau jalan provinsi. Kamu kerja ini, ini, ini. Pada saat mereka kerja, anggarannya tidak ada," ungkap Andi.

Oleh sebab itu, ketika vendor lokal yang digaet untuk mengerjakan suatu proyek menagih pembayaran, BUMN pun tak bisa melunasinya saat itu juga. Ditambah lagi dengan pandemi COVID-19 ini yang semakin menekan arus kas BUMN.

"Rata-rata proyek yang masih dikerjakan sekarang itu kan carry over, pekerjaan tahun kemarin. Dan karena COVID-19 akhirnya dilakukan refocusing semua anggarannya. Otomatis BUMN-BUMN kita ini kan menjerit karena tidak dibayar. Jadi bagaimana dia mau membayar ke vendor kalau mereka sendiri tidak dibayar pemerintah," tegas Andi.

Menurut Andi, ada cara agar proyek BUMN yang telah selesai bisa segera menghasilkan pemasukan untuk perusahaan, sehingga bisa melunasi pembayaran ke BUMN. Caranya adalah menciptakan sentra-sentra ekonomi di sekeliling infrastruktur yang dibangun, sehingga infrastruktur tersebut pun akan digunakan masyarakat dalam rutinitasnya, misalnya jalan tol.

"Saya tidak ingin mengatakan pemerintah tidak punya masterplan yang bagus, tidak punya perencanaan yang baik. Karena maksud saya kita menikmati infrastruktur yang ada saat ini. Ini pencapaian yang luar biasa. Tinggal bagaimana jalan tol yang dibangun itu menjadi multiplier effect bagi masyarakat sekitarnya," tandas dia.



Simak Video "Setneg Bantah Isu Jokowi Bikin Yayasan Untuk Kelola TMII"
[Gambas:Video 20detik]
(vdl/ang)