Sampai Kapan Harga Emas Turun Terus?

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 13 Apr 2021 12:43 WIB
Karyawan menunjukan emas batangan di Butik Emas Antam, Kebon Sirih, Jakarta, Senin (18/1/2021). Harga emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk pada Senin (18/1) berada pada posisi Rp 944.000 per gram atau turun Rp4.000 dari perdagangan akhir pekan lalu. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/rwa.
Foto: ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA
Jakarta -

Harga emas telah jauh meninggalkan rekor tertingginya di masa pertengahan pandemi. Kini harga emas terus mengalami penurunan.

Di dalam negeri emas Antam hari ini turun Rp 2.000 per gram ke posisi Rp 924.000 per gram. Sementara untuk pasar dunia harga emas saat ini turun tipis 0,17% ke level US$ 1.729 per ons.

Pengamat Komoditas Ariston Tjendra mengatakan, tren pelemahan harga emas saat ini disebabkan mulai pulihnya ekonomi dari pandemi, khususnya di Amerika Serikat.

"Ekspektasi pemulihan ekonomi kan mendorong orang untuk keluar lagi dari aset-aset aman, termasuk emas. Jadi secara langsung tidak langsung ya pasti menekan harga emas," terangnya kepada detikcom, Selasa (13/4/2021).

Dia juga menjelaskan, emas merupakan komoditas yang dinilai dalam dolar AS. Sehingga ketika dolar AS menguat harga komoditas yang dinilai dalam mata uang itu ikut turun termasuk emas.

Berbagai faktor yang mendukung pemulihan ekonomi telah mendorong para investor keluar dari aset-aset aman termasuk emas. Ariston memprediksi tren ini akan berlanjut hingga harga emas menyentuh level US$ 1.600 per ons.

"Pasar melihat tahun ini adalah tahun pemulihan ekonomi, jadi mungkin mereka melihat sepanjang tahun ini akan ada tekanan terus untuk harga emas, kalau dari emas spot itu ada potensi emas masuk ke area 1.600-an dolar per troy ons," terangnya.

Namun Analis Logam Mulia Standard Chartered Suki Cooper menilai dalam jangka pendek ada peluang bagi emas untuk kembali meningkat. Hal itu disebabkan adanya kemungkinan inflasi yang lebih tinggi.

Pasar akan melihat adanya risiko dari laju inflasi yang tinggi. Sehingga mereka akan kembali ke aset lindung nilai termasuk emas.

"Harga emas tidak sepenuhnya mencerminkan risiko inflasi tinggi dalam waktu dekat karena ekonomi dibuka kembali tetapi mendapatkan dukungan dari pemulihan permintaan fisik," kata Cooper dilansir dari Kitco.

"Sementara sikap dovish The Fed dan skala stimulus fiskal AS memberikan latar belakang yang menguntungkan, harga emas cenderung rally kuat di tengah periode inflasi yang tinggi dan tak terduga," tambahnya.

Simak juga 'Banyak Jenisnya, Mana Produk Investasi yang Paling Menguntungkan?':

[Gambas:Video 20detik]



(das/zlf)