Sedih! Pedagang Pantura Gigit Jari Lagi Gegara Mudik Dilarang

Robby Bernardi - detikFinance
Jumat, 16 Apr 2021 03:00 WIB
Curhat pedagang di Pantura soal mudik dilarang
Foto: Robby Bernardi/detikcom: Curhat pedagang di Pantura soal mudik dilarang

Dari pantauan detikcom sejumlah warung yang ada, tidak ada kegiatan sama sekali. Bahkan, lebih banyak tutup. Padahal, tahun-tahun sebelum adanya Corona, sejak awal memasuki bulan Ramadhan, warung-warung kecil di sepanjang Pantura, mulai berbenah merapikan warungnya untuk menyambut mereka yang mudik.

Berbeda dengan Tasrip, Sriniah (39), mengakui dirinya sudah dua tahun ini tidak jualan. Dirinya kini justru menjadi karyawan rumah makan. Namun, sama saja, di rumah makan yang ia kerja, juga sepi.

"Saya tidak jualan lagi. Tidak berani. Iya kalau laku, kalau tidak giamana, yang namanya jualan makanan ya. Disini saja, rumah makan yang lebih besar dari warung saya dulu, juga sepi," katanya.

Curhat pedagang di Pantura soal mudik dilarangCurhat pedagang di Pantura soal mudik dilarang Foto: Robby Bernardi/detikcom: Curhat pedagang di Pantura soal mudik dilarang

Dia mengaku dulu hanya modal Rp 500 ribu untuk belanja keperluan jualan, termasuk menyedikan pecak belut dan makanan lainnya di warungnya, bisa cepat mendapatkan keuntungan.

"Modal Rp 500 ribu zaman ramainya warung dulu, laba bisa berlipat-lipat. Sekarang, sepi," jelas Srinah.

"Saya hanya bisa masak dan jualan makanan. Karena sepi saya bekerja disini, itupun banyak waktu luangnya karena sepi juga," imbuhnya.

Hal yang sama dikatakan pemilik warung pecak belut di Pantura, yakni Sukemi (58), warga Ampelgading, Pemalang.

"Kami hanya mengandalkan supir truk yang mampir. Ya semoga pendemi Corona berakhir, agar kita bisa berdagang dengan normal kembali," harapnya.

Halaman

(hns/hns)