5 Penyakit yang Bikin BUMN Karya Berdarah-darah

Danang Sugianto - detikFinance
Jumat, 16 Apr 2021 17:40 WIB
Sejumlah tamu beraktivitas di dekat logo baru Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (2/7/2020). Kementerian BUMN meluncurkan logo baru pada Rabu (1/7) yang menjadi simbolisasi dari visi dan misi kementerian maupun seluruh BUMN dalam menatap era kekinian yang penuh tantangan sekaligus kesempatan. ANATAR FOTO/Aprillio Akbar/nz
Ilustrasi/Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Jakarta -

Kinerja keuangan BUMN karya semakin parah dan berdarah-darah. Rata-rata laba mereka tergerus cukup signifikan, bahkan ada yang rugi hingga triliunan.

Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero) Budi Harto mengungkapkan, BUMN karya memiliki komplikasi penyakit yang sama. Apa saja?


1. Daya Tahan Lemah

Pertama, bisnis jasa konstruksi memiliki daya tahan yang rendah, alias rentan terhadap perubahan lingkungan ekonomi.

Dia mencontohkan, misalnya tiba-tiba ada kenaikan BBM. Sementara bisnis jasa konstruksi memiliki kontrak jangka panjang bisa 3-4 tahun. Nah ketika ada perubahan seperti itu, maka asumsi bisnis yang sudah dibuat menjadi kurang relevan.

"Maka di sanalah perubahan-perubahan itu sering menjadikan risiko bagi kami, memperburuk kondisi fisik bisnis kami," terangnya dalam Webinar Mengukur Infrastruktur, Jumat (16/4/2021).

2. Seleksi Proyek Ketat

Budi melanjutkan, BUMN karya merupakan penyedia jasa konstruksi bagi pemerintah. Namun BUMN karya juga diharuskan seleksi persaingan yang cukup ketat dalam memperoleh proyek.

Menurutnya persaingan yang ketat dalam perebutan proyek tersebut membuat mereka terpaksa mengajukan harga yang tidak baik bagi keuangan mereka. Sehingga menambah beban kerugian mereka.

"Secara garis besar, sebenarnya kualitas harga yang baik itu adalah hanya sekitar 90% dari HPS yang disusun oleh pemilik proyek atau penyedia jasa. Namun demikian beberapa fakta dan data, banyak angka-angka hasil tender ini di bawah 80%. Sehingga ini akan mengakibatkan risiko kerugian yang besar," ucapnya.

Menurut Budi kedua penyakit itu sudah menjadi komplikasi akut bagi kesehatan keuangan BUMN karya. Mau tidak mau mereka harus menghadapi risiko tersebut.

3. Dituntut Kuasai Teknologi

Tapi belum cukup sampai di situ, BUMN karya juga dituntut untuk menguasai teknologi terkini. Mereka diberikan proyek-proyek untuk menguji teknologi yang mereka punya.

"Namun demikian beberapa di antara pelaku jasa konstruksi khususnya BUMN karya ini kadang-kadang mengambil proyek-proyek yang teknologinya belum sepenuhnya dikuasai, khususnya di bidang EPC, ini mengakibatkan kerugian yang lebih besar lagi," akunya.

Nah untuk mencapai teknologi tersebut para BUMN karya terpaksa untuk mencari dana-dana pinjaman guna melakukan investasi di teknologi tersebut. Padahal belum tentu hal itu sesuai dengan kelayakan bisnis. Akhirnya utang bengkak, beban keuangan bertambah besar.

4. Properti

Kemudian BUMN karya juga ternyata nyemplung di kolam yang sama yakni properti. Hampir semua BUMN karya memiliki lini bisnis properti. Menurut Budi itu hal yang tidak sehat.

Bisnis properti juga turut memberikan risiko yang besar bagi BUMN karya. Pertama bisnis ini mengharuskan mereka memiliki landbank atau pasokan yang besar.

Nah landbank itu tidak murah dan membuat mereka harus kembali mencari pinjaman. Landbank itu tidak bisa dengan cepat dijadikan proyek hunian untuk dijual, sedangkan bunga dari pinjaman yang diajukan terus bergulir.

"Oleh karena itu mengakibatkan bunga yang tiap tahun, sehingga akan dikapitalisasi dalam harga properti tadi, sehingga properti yang dihasilkan akan memiliki HPP yang tinggi. HPP ini akan berada jauh di atas daya beli masyarakat," ucapnya.

5. Proyek Luar Negeri

Penyakit terakhir adalah proyek di luar negeri. Proyek di luar negeri sering menimbulkan gesekan antara penyedia jasa dan pengguna jasa. Ujungnya yang dirugikan adalah penyedia jasa.

"Namun demikian pasar luar negeri ini adalah suatu yang penting juga. Di samping memperluas pasar juga sebagai barometer kita bagaimana kondisi kita dibanding dengan kontraktor-kontraktor di luar negeri," tutupnya.

(das/hns)