Terpopuler Sepekan

Balada Protes Karyawan KFC Tuntut Upah dan THR Normal Lagi

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 17 Apr 2021 13:15 WIB
Restoran cepat saji  ayam goreng kfc. dikhy sasra /ilustrasi/ detikfoto
Foto: dikhy sasra
Jakarta -

Restoran cepat saji KFC didemo oleh pegawainya yang tergabung dalam Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI). Demo dilakukan karena manajemen KFC melakukan pemotongan upah secara sepihak hingga pembayaran THR yang tidak sesuai dengan ketentuan.

Separah apa kondisi keuangan perusahaan yang sudah beroperasi sejak 1979 itu sampai didemo gegara upah begitu?

Dari laporan keuangan perusahaan, per September 2020 KFC mencatatkan rugi sebesar Rp 298,33 miliar hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 175,69 miliar.

Pendapatan KFC juga tercatat cukup dalam yakni Rp 5,01 triliun menjadi Rp 3,58 triliun per Januari-September 2019 dibanding 2020.

Penurunan terjadi di semua sumber pendapatan KFC, mulai pendapatan dari makanan dan minuman turun dari Rp 4,93 triliun menjadi Rp 3,54 triliun. Lalu, pendapatan dari jualan konsinyasi CD juga turun dari Rp 68,8 miliar menjadi Rp 41,49 miliar dan pendapatan dari jasa layanan antar dari Rp 5,49 miliar menjadi Rp 3,55 miliar.

Dalam periode tersebut perusahaan berupaya melakukan efisiensi salah satunya terlihat dari beban operasional gaji karyawan terlihat menurun dari periode yang sama tahun sebelumnya. Beban gaji di segmen penjualan dan distribusi berkurang dari Rp 675 miliar menjadi Rp 671,7 miliar, demikian juga beban gaji di segmen umum dan administrasi berkurang dari Rp 269,58 miliar menjadi Rp 265,52 miliar.

Perseroan memang melaporkan adanya pengurangan karyawan tetap sepanjang periode tersebut, dari awalnya sebanyak 16.968 orang sampai akhir 2019, menjadi hanya 16.075 orang sampai 30 September 2020. Namun, tak dijelaskan pengurangan karyawan tetap apakah dengan PHK atau mengundurkan diri secara sukarela.

Tak hanya itu, gerai KFC pun berkurang dari 748 gerai menjadi 738 gerai atau berkurang sebanyak 10 gerai. Jumlah ini belum mewakili laporan terbaru hingga Desember 2020 sebab memang perusahaan belum menyampaikannya ke otoritas bursa.

Perseroan tak menampik dampak pandemi itulah yang membuat perusahaan mengalami pertumbuhan penjualan yang negatif untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2020 dan mengalami kerugian bersih sebagaimana diungkapkan dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain.

"Menanggapi kondisi di atas, tindakan yang telah dan akan diambil oleh Manajemen diantaranya adalah pengurangan kegiatan pemasaran dan dukungan dana, promosi, pengurangan dan efisiensi biaya," tambahnya.

(kil/eds)