Mendag Beberkan Ancaman yang Bisa Gagalkan RI Jadi Negara Maju

Hendra Kusuma - detikFinance
Sabtu, 17 Apr 2021 20:30 WIB
M Lutfi
Foto: Ari Saputra: Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi
Jakarta -

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan Indonesia harus mampu memanfaatkan bonus demografi yang saat ini dimiliki. Jika tidak, maka Indonesia terjebak dalam negara berpendapatan menengah atau middle income trap.

Pada 2045, Indonesia diprediksi akan menjadi negara dengan perekonomian nomor 4 dunia. Di mana, pada saat itu angka penghasilan per kapitanya mencapai US$ 29.000. Batas waktu untuk memastikan Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah harus mampu meningkatkan tiga kali lipat penghasilan per kapita sampai tahun 2038.

"Melihat hitung-hitungan antara 2038-2040, menurut OECD ketika habis bonus demografi dan tidak bisa me-triple GDP kita maka kita akan terperangkap dalam middle income trap, ini sesuatu yang bahaya," kata Lutfi dalam webinar Milenial Hub: Milenial Fest x PPI Belgia, Sabtu (17/4/2021).

Mendag mengatakan ada beberapa upaya yang bisa dilakukan pemerintah untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah dan menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-4 di dunia.

Upaya tersebut melalui investasi infrastruktur dan pembangunan sumber daya manusia.

"Untuk keluar dari middle income trap itu hanya 2 yang mesti kita lakukan adalah investasi di infrastruktur, dan adalah ahli teknologi dari pendidikan. Mudah diucapkan dan sulit diterapkan," ujarnya.

Selain itu, dikatakan Mendag pemerintah juga harus merealisasikan pertumbuhan ekonomi setiap tahunnya di level 6,4%. Untuk mendapatkan pertumbuhan tersebut, maka pemerintah harus mengerjakan banyak hal di banyak sektor.

Mulai dari investasi yang pertumbuhannya harus berada di level 7,3% setiap tahunnya. Industri manufaktur yang pertumbuhannya sekitar 7,8% sampai 8% setiap tahunnya. Ekspor yang pertumbuhannya harus berada di level 7,8%.

Untuk melakukan hal tersebut, Mendag mengatakan dibutuhkan pelaku usaha baru yang tangguh.

"Untuk dapat hal-hal ini kita memerlukan pelaku ekonomi baru, untuk bisa tumbuh dan memastikan ekonomi tumbuh segini besar," ungkapnya.

(hek/hns)