Sejarah Awal Tradisi Mudik yang Kini Dilarang saat Pandemi

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Minggu, 18 Apr 2021 07:26 WIB
Para pemudik tiba dari kampung halaman dengan menggunakan kereta tujuan Semarang - St Senen, Jakarta, Rabu (22/8). Lonjakan arus balik para pemudik yang melaksanakan lebaran di kampung halamannya mulai terlihat di Stasiun Senen pada H+4 hal ini dikarenakan telah selesai masa cuti bersama dan diprediksi puncak arus balik pemudik pada H+6. Jhoni Hutapea/detikcom. File/detikFoto.
Foto: Jhoni Hutapea/detikcom
Jakarta -

Pemerintah telah memutuskan untuk melarang mudik pada tahun ini. Langkah itu ditempuh sebagai upaya untuk mengendalikan pandemi COVID-19.

Tahun ini jadi tahun kedua tradisi mudik dilarang. Sebelumnya, kebijakan ini tak ada. Nah ngomong-ngomong soal mudik, menarik untuk menyimak sejarah mudik itu sendiri.

Mudik telah menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi masyarakat Indonesia. Masyarakat yang berada di perkotaan biasanya berbondong-bondong pulang ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran.

Aktivitas pulang kampung ini sendiri dapat ditelusuri hingga era Batavia, pemerintahan kolonial Hinda-Belanda. Dalam pemberitaan detikcom seperti ditulis, Minggu (18/4/2021), Sejarawan lulusan Universitas Indonesia (UI) JJ Rizal mengidentifikasi tradisi mudik dengan aktivitas di Batavia, di mana saat itu sudah membutuhkan banyak tenaga kerja sejak dua abad silam.

"Terutama kata mudik ini identik dengan Batavia, ibu kota kolonial yang kemudian diwarisi Jakarta sebagai ibu kota nasional serta menjadi pusat urbanisasi," kata Rizal kepada detikcom.

Lebih lanjut, kata udik berarti kembali ke titik awal mula aliran sungai, alias di hulu, letaknya di desa yang jauh dari hilir di Batavia. Istilah mudik kemudian berkembang menjadi bermakna pulang kampung bagi kaum buruh/pekerja. Sebab, kaum buruh di Batavia memang banyak yang bukan penduduk asli melainkan dari luar daerah.

"Mudik adalah tradisi kota, timbul bersama munculnya kota-kota di Indonesia. Berita yang ada kebanyakan ketika muncul kota-kota masa kolonial di Indonesia dan gejala urbanisasi pada abad 19 (1801-1900). Ada jarak kota dengan desa yang sering disebut udik. Jadilah kembali ke desa disebut mudik," terang Rizal.

Memang, aktivitas mudik dari Jakarta ke desa-desa di luar Jakarta sudah ada sejak era kolonial. Namun, gencarnya aktivitas mudik sebenarnya baru dimulai di era Orde Baru. Saat periode Gubernur Jakarta Ali Sadikin (1966-1977), mudik berkembang menjadi tradisi besar.

"Karena menyangkut perpindahan orang dari desa ke kota yang semakin besar dan berimplikasi luas bagi banyak hal, mulai dari transportasi sampai kriminalitas. Ini terutama setelah masa Ali Sadikin, ketika posisi warga asli, yakni Betawi, bukan lagi nomer satu, digantikan urban Jawa, Sunda, dan lain lain," kata Rizal.

Semakin gencar dan sukses proyek pembangunan di Jakarta, semakin banyak buruh-buruh dari pelosok desa datang ke Jakarta. Banyaknya jumlah pendatang ke Jakarta berbanding lurus dengan kehebohan mudik tiap Lebaran.

Peneliti senior The Wahid Institute, Rumadi Ahmad, dalam tulisannya di kolom detikcom menjelaskan, dalam Idul Fitri juga ada tradisi halalbihalal, yang merupakan tradisi khas Islam Nusantara.

Meski menggunakan struktur bahasa Arab, kata ini tidak dikenal di dunia Arab. Kata 'halalbihalal' merupakan kreativitas muslim Nusantara. Meski tradisi saling memaafkan merupakan ajaran Islam, pengemasan dalam aktivitas yang disebut halalbihalal merupakan karya khas muslim Nusantara.

(acd/zlf)