Terganjal Segudang Masalah, Ekspor RI Masih Keok di APEC

Trio Hamdani - detikFinance
Senin, 19 Apr 2021 11:01 WIB
Neraca perdagangan pada Oktober 2017 tercatat surplus US$ 900 juta, dengan raihan ekspor US$ 15,09 miliar dan impor US$ 14,19 miliar.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Meski menjadi tulang punggung perekonomian, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia belum memiliki taring di kancah dunia. Hal itu tercermin dari rendahnya kontribusi UMKM dalam hal ekspor.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menerangkan bahwa kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebesar 60%, dan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja sebanyak 97%.

Sayangnya, akselerasi ekpor yang dilakukan oleh UMKM patut diakui masih rendah. Bahkan jika dibandingkan oleh negara-negara yang tergabung dalam Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), ekspor UMKM masih rendah.

"Kontribusi ekspor UMKM masih relatif rendah, yaitu 14,37%. Tetapi ini masih tertinggal lah dari negara-negara APEC, bahkan APEC sudah mencapai 35%," kata dia dalam webinar, Senin (19/4/2021).

Dia menuturkan bahwa eksportir di Indonesia masih didominasi oleh pelaku usaha berskala besar, yaitu sebanyak 86%. Kontribusi UMKM masih rendah karena kesulitan melakukan ekspor.

Ada beberapa kendala utama yang menghambat UMKM melakukan ekspor, yakni minimnya pengetahuan hingga kendala logistik.

"UKM sulit menembus pasar ekspor karena minimnya pengetahuan tentang pasar luar negeri, kualitas produk, kapasitas produksi, biaya sertifikasi yang tidak murah, hingga kendala logistik," sebut Teten.

Tentu saja, kendala-kendala yang dihadapi oleh UMKM dijelaskannya harus mendapatkan solusi. Dibutuhkan kolaborasi untuk memecahkan masalah tersebut dengan cepat.

(toy/zlf)