Filsafat Boediono Soal Indonesia

Filsafat Boediono Soal Indonesia

- detikFinance
Selasa, 07 Mar 2006 10:50 WIB
Jakarta - Tak hanya jago mengolah angka-angka, Menko Perekonomian Boediono pun ternyata juga jago berfilsafat. Simak filsafat doktor ekonomi UGM ini tentang Indonesia. "Penting untuk menyimak filsafat dari sastrawan besar yakni Sutan Takdir Alisjahbana yang berbunyi, danau yang tenang tidak beriak adalah wujud Indonesia masa lalu. Indonesia masa depan harus menuju samudera luas dengan ombak gulung menggulung," ujar Boediono.Pandangan Boediono itu disampaikan kepada ratusan anggota Kadin yang memadati Hotel Borobudur dalam acara Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin yang berlangsung mulai Selasa (7/3/2006). Rapimnas kali ini mengambil tema "Strategi dan langkah nyata dunia usaha menghadapi perekonomian global"."Pandangan ini relevan dengan persaingan global saat ini. Kita perlu menghadapi dengan melihat aspek persaingan global sebagai satu kesempatan. Tidak lama lagi perhatian dunia akan mengarah juga ke Indonesia, yang tidak kalah potensinya. Tentunya upaya ini tidak bisa dengan hanya berdiam diri," lanjut Boediono.Mantan menkeu ini meyakini, Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan baru dalam perekonomian dunia. "Kita perlu bertanya jika produsen Cina dan India mampu, kenapa kita tidak," ujarnya. Perekonomian Indonesia MembaikDalam kesempatan itu, Boediono juga menegaskan sikap pemerintah yang akan menjadi fasilitator dan regulator dalam dunia usaha, bukan menjadi pesaing bagi kalangan industriawan. Boediono juga memaparkan perkembangan ekonomi makro Indonesia. Berdasarkan analisis dari BPS, pertumbuhan ekonomi 2005 mencapai 5,6 persen dengan investasi bersama ekspor dan konsumsi sebagai sumber pertumbuhan. "Sejak Desember, berbagai indikator menunjukkan pulihnya dunia usaha," ujarnya.Nilai tukar rupiah mengalami penguatan dari 12.000 per dolar AS, saat ini menjadi sekitar 9.100-9.300 per dolar. "IHSG terus secara konsisten membaik. Minat investor global pun mengalami peningkatan baik di pasar domestik maupun pasar global," tambahnya. Beberapa indikator yang menunjukkan perbaikan, imbuh Boediono, memungkinkan tingkat suku bunga yang lebih baik dibandingkan enam bulan yang lalu. Boediono pun juga menyampaikan soal kenaikan dari lembaga keuangan dari stabil ke positif. "Jika upaya kita konsisten, saya yakin dunia usaha akan mencapai investment grade. Biaya investasi pun akan menurun," ujarnya. Namun Boediono mengakui, masih ada beberapa tantangan yang harus ditaklukkan Indonesia yakni terkait tingginya inflasi. "Ini masih perlu upaya untuk mengendalikan inflasi sebagai prioritas beberapa bulan ke depan," tambahnya.Tantangan kedua adalah tingginya jumlah lapangan kerja yang belum terserap yakni mencapai 1,6-1,8 juta ditambah pengangguran terbuka 10 juta orang. "Penciptaan lapangan kerja penting untuk menurunkan angka kemiskinan hingga 8,5 persen pada 2009 nanti," tandas Boediono. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads