Ekspor Sepatu 2008 Capai US$ 4 M

5 Prinsipal Sepatu Beken Masuk

Ekspor Sepatu 2008 Capai US$ 4 M

- detikFinance
Selasa, 07 Mar 2006 18:07 WIB
Jakarta - Target ekspor sepatu Indonesia, diperkirakan akan mencapai US$ 4 miliar pada tahun 2008, menyusul masuknya order dari 5 prinsipal terkemuka yakni Adidas, Nike, Reebok, Lacoste dan Puma.Sementara ekspor sepatu Indonesia tahun ini diperkirakan sebesar US$ 1,7-1,8 miliar. Sedangkan pada tahun 2005 ekspor sepatu mencapai US$ 1,5 miliar dan tahun 2004 sebesar US$ 1,3 miliar."Kita harapkan investasi akan meningkat lebih banyak lagi sehingga yang asosiasi pengusaha sepatu Indonesia (Aprisindo) harapkan US$ 4 miliar tahun 2008 tercapai, tentunya akan datang banyak lagi," kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.Hal itu diungkapkan Mari disela acara rapat pimpinan nasional (rapimnas) Kadin di Hotel Borobudur, kawasan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (7/3/2006).Menurut Mari, untuk mendorong masuknya prinsipal sepatu besar masuk, kuncinya adalah investasi dan industri pendukung yang harus bisa berkembang dengan tumbuhnya industri sepatu.Menanggapi masalah yang dikemukakan pengusaha sepatu tentang lamanya karantina kulit impor oleh Departemen Pertanian (Deptan), Mari mengaku akan membahasnya dengan Menteri Pertanian (Mentan) untuk bisa mempercepatnya."Masalah karantina kita mendapat keluhan dari mereka, bahwa bahan baku kulit mendapat karantina, di Deptan ditahan terlalu lama, untuk itu akan membahas dengan Mentan melihat apakah waktu pengecekan bisa lebih cepat," kata Mari.Menurutnya, selama ini bisnis sepatu tidak keberatan, apabila ada pemeriksaan kualitas untuk menguji pemeriksaan penyakit mulut dan kuku (PMK) terhadap bahan bakunya."Yang terpenting waktu pengecekan ditentukan saja dengan adanya batas waktu sesingkat mungkin," kata Mari.Sementara Sekjen Aprisindo Yudhi Komaruddin mengatakan, meski Indonesia terpilih untuk menjadi tujuan order, setelah Cina dan Vietnam terkena Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) dari AS dan Uni Eropa, per 1 April 2006, masih banyak kendala yang harus dibenahi seperti bahan baku dan kepastian hukum.Menurut Yudhi, jika tidak ada komitmen dari pemerintah bisa jadi order tersebut akan batal. Apalagi ada negara lain yang sangat potensial menjadi sasaran setelah Indonesia yakni Myanmar dan India. "Ini yang perlu pemerintah hati-hati," katanya. Maka itu, ungkap Yudhi, pemerintah harus memperlihatkan perbaikan seperti infrastruktur, birokrasi, high cost di daerah, pengembangan supporting industry sepatu dengan insentif dan perbaikan pajak. Hal ini perlu dilakukan kalau tidak mau ordernya kabur, serta kepastian bahan baku yang mudah diperoleh. (ir/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads