Pentingnya Bangun Customer Journey Supaya Jualan Laris di Instagram

Jihaan Khoirunnisaa - detikFinance
Senin, 26 Apr 2021 17:06 WIB
Iseng Komentar di Akun Ringgo Agus, Akun Daganganku Kebanjiran Followers
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/GaudiLab
Jakarta -

Bukan hanya untuk berbagi foto, media sosial seperti Instagram kini menjadi salah satu tempat potensial untuk berjualan. Namun, untuk bisa mulai berjualan online di Instagram nggak bisa hanya serta-merta membuat akun jualan.

Vertical Lead Facebook Indonesia, Aldo Rambie mengatakan supaya jualan laris di Instagram maka harus memiliki kemampuan membangun customer journey lewat konten-konten yang dibuat. Tujuannya tidak lain untuk memenangkan hati audience Instagram yang merupakan calon pembeli.

"Para user menemukan produk atau jasa dengan meluangkan waktu di platform. Mereka juga research, mengunjungi page dari bisnis untuk mempelajari lebih lanjut. Mereka juga membeli melalui channel Instagram misalkan langsung ke e-commerce. Jadi lebih dari 20%, mereka melihat aspek-aspek dari customer journey," ujar Aldo di acara Webinar UMKM bertajuk 'Mewujudkan Kemandirian Ekonomi UMKM', Pegadaian Virtual Expo 2021, Senin (26/4/2021).

Aldo menjelaskan langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membangun awareness masyarakat tentang sebuah brand. Menurutnya, kunci dalam membangun brand awareness ada pada profil Instagram terutama 6 foto terakhir yang dipos. Keenam foto tersebut harus bisa merepresentasikan image dari bisnis.

"Dalam membangun brand awareness, penting sekali profile (akun). 6 foto terakhir yang di-post itu penting, karena ketika user browsing, masuk ke profil IG mereka akan lihat 6 foto terakhir. Bagaimana foto ini bisa merepresentasikan bisnis yang ingin dipelajari. Jelas dari sisi visual," terangnya.

Kemudian yang tidak kalah penting adalah penggunaan tanda pagar. Dia mengatakan, tanda pagar atau hashtag akan mendorong konten jualan masuk ke tab explore di Instagram. Dengan begitu, calon pembeli akan mudah menemukannya.

"Bisa juga membangun kolaborasi dengan influencer. Influencer di sini nggak perlu yang besar, bisa juga dengan micro influencer yang punya followers yang cukup baik, erat, untuk topik tertentu," tuturnya.

PegadaianVertical Lead Facebook Indonesia, Aldo Rambie Foto: Screenshoot/detikcom

Setelah selesai tahap pertama, maka pemilik bisnis bisa fokus pada tahap yang selanjutnya, yaitu consideration. Dalam tahap ini, Aldo menilai penting untuk mempertimbangkan kemudahan akses pembeli untuk mendapat informasi lengkap mengenai produk, baik lewat fitur direct message maupun lainnya.

"Bangun kemampuan komunikasi dengan calon pembeli karena setelah brand dikenal, para pembeli akan menanyakan lebih banyak soal produk atau jasa yang ditawarkan. Misalnya ada 150 juta Instagrammer yang DM setiap bulan ke bisnis. Bagaimana membangun kemampuan untuk merespons dan me-represent di WhatsApp," katanya.

Ketiga yaitu tahapan inspire action yang merupakan tahapan mengajak user untuk membeli produk. Diungkapkan Aldo, pemilik usaha bisa memanfaatkan fitur shops pada Instagram. Atau bisa juga dengan mengintegrasikan akun jualan ke website dan platform e-commerce. Hal ini agar memudahkan proses pembelian produk oleh konsumen.

"Yang terakhir adalah bagaimana membangun komunitas. Ada IG live, post, story, ini membangun koneksi atau komunitas yang memiliki hubungan dengan brand atau pembeli. Jadi dengan incorporate beberapa aktivitas customer journey, mudah-mudahan ini bisa membangun 1 fase perjalanan konsumen," pungkasnya.

Untuk diketahui, webinar UMKM adalah rangkaian hari pertama Pegadaian Virtual Expo 2021, yang dihadiri oleh sejumlah pembicara, di antaranya GM Corporate Communication Foodizz, Sarita Sutedja, Vertical Lead Facebook Indonesia, Aldo Rambie, serta Direktur Pemasaran & Pengembangan Produk PT Pegadaian (Persero), Harianto Widodo.

Selain webinar UMKM, acara yang digelar secara virtual ini juga menghadirkan sesi Webinar PADI UMKM & Digital Lending. Dalam sesi ini dibahas mengenai manfaat program PaDi UMKM yang merupakan inisiasi Kementerian BUMN untuk menghubungkan BUMN di seluruh Indonesia dengan produk UMKM lokal.

(akn/hns)