3 Alasan ADB Ramal Ekonomi RI Bakal Bangkit Tahun Depan

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 29 Apr 2021 05:15 WIB
Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menghadapi ancaman pandemi COVID-19. OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 4,9% di tahun 2021.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5% pada tahun 2022. Hal itu terjadi usai banyaknya indikator perekonomian yang sudah mulai tumbuh meski masih di tengah pandemi COVID-19.

Dalam Asian Development Outlook (ADO) 2021, disebutkan bahwa telah terjadi perubahan proyeksi angka pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini, yaitu menjadi 4,5% dari yang sebelumnya di rilis pada angka 5,3%. Berikut 3 alasan ADB ramal ekonomi Indonesia tumbuh 5% di 2022:

1. Berhasil Melewati Masa Krisis

Untuk tahun 2021, ABD memperkirakan perekonomian Indonesia sudah berada di level positif, yaitu di level 4,5% atau masih sesuai dengan target pemerintah dalam APBN 2021.

"Meskipun terjadi krisis yang tak terduga akibat penyakit virus Corona (COVID-19), Indonesia melewati tahun 2020 dengan baik berkat respons krisis yang dikoordinasikan dan dikomunikasikan dengan bagus, dan kepemimpinan yang kuat dalam menanggulangi pandemi," kata Direktur ADB untuk Indonesia, Winfried Wicklein dalam keterangan resminya yang dikutip, Rabu (28/4/2021).

2. Perbaikan Indikator Ekonomi

menyebutkan pengeluaran rumah tangga di Indonesia diperkirakan akan meningkat pada 2021 seiring lajunya program vaksinasi dan makin banyak sektor perekonomian yang kembali beroperasi. Investasi diharapkan akan meningkat lagi bersamaan dengan membaiknya prospek ekonomi. Namun, laju pemulihan pembiayaan atau kredit masih akan tertinggal mengingat ketidakpastian sentimen investor.

Sementara untuk inflasi yang mencapai rata-rata 1,6% tahun lalu, diperkirakan akan naik ke 2,4% pada 2021, sebelum turun lagi ke 2,8% pada 2022. Angka inflasi ini masih berada dalam rentang target Bank Indonesia (BI) karena tekanan inflasi akibat depresiasi mata uang dan permintaan pangan yang lebih tinggi akan diimbangi sebagian oleh penurunan harga barang yang ditetapkan pemerintah.

Kinerja ekspor tanah air yang didukung oleh kuatnya ekspor komoditas akan menjadikan defisit transaksi berjalan sebesar 0,8% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2021. Seiring naiknya investasi tahun depan, volume barang modal impor yang lebih tinggi, seperti mesin dan peralatan, diperkirakan akan mendorong defisit transaksi berjalan Indonesia hingga 1,3% PDB pada 2022.

"Dengan pulihnya perdagangan secara continue, kebangkitan sektor manufaktur, dan anggaran pemulihan ekonomi nasional yang besar untuk 2021, kami optimis Indonesia akan kembali ke jalur pertumbuhannya tahun depan," kata Wicklein.

3. Tetap Waspada

Menurut dia, terdapat beberapa risiko yang signifikan terhadap perkiraan ini. Pemulihan ekonomi global bakal terganggu karena adanya ancaman mutasi virus Corona yang baru, serta tidak meratanya proses vaksinasi di dunia, dan pengetatan keuangan global yang tidak terduga sebelumnya.

Sedangkan untuk di dalam negeri, pemulihan ekonomi dapat melambat bila terjadi lonjakan kasus COVID-19 selama bulan Ramadhan, keterlambatan dalam upaya vaksinasi, dan melemahnya pendapatan pemerintah.

(hek/fdl)