Lama Tak Terdengar, Apa Kabar Produk Eucalyptus Antivirus Corona?

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Rabu, 05 Mei 2021 16:36 WIB
Kementerian Pertanian (Kementan) telah meluncurkan produk yang diklaim antivirus Corona. Produk tersebut berbasis eucalyptus. Bergini penampakannya:
Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom
Bogor -

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) tahun lalu mengembangkan produk eucalyptus yang berasal dari minyak atsiri sebagai antivirus Corona. Lama tak terdengar, produk tersebut kini sudah dilakukan uji toksisitas pada hewan coba. Lantas seperti apa hasilnya?

Tim Riset Eucalyptus Balitbangtan Indi Dharmayanti menyatakan pemanfaatan kandungan senyawa aktif yang dimiliki oleh tanaman eucalyptus merupakan yang paling efektif. Hal ini membuat eucalyptus menjadi kandidat terkuat yang berpotensi membantu pencegahan COVID-19 di antara 60 tanaman herbal lainnya.

"Minyak atsiri dari daun eucalyptus citriodora dan eucalyptus globulus konsentrasi 2%, 4%, 8% dan 10% tidak menyebabkan toksisitas secara in vitro," ujar Indi dalam Talkshow Satu Tahun Penelitian Eucalyptus, di Puslitbang Perkebunan, Bogor, Rabu (5/5/2021).

Indi mengungkapkan eucalyptus dan formulanya sebagai terapi penunjang pada pasien COVID-19 juga dapat dipertimbangkan berdasarkan karakteristik dan senyawa aktifnya. Pada beberapa jurnal dilaporkan eucalyptus ini memiliki aktivitas sebagai antivirus.

"Hasil penelitian juga in line antara uji pada hewan dan uji klinis pada manusia, terutama dalam menurunkan mood partikel virus di laboratorium," ungkapnya.

Menurutnya, hasil pengujian secara umum menunjukkan bahan tunggal dan formula eucalyptus Balibangtan yang diuji dapat menurunkan jumlah partikel (Viral Load) dan daya hidup virus SARS-CoV 2 serta mengurangi kerusakan sel akibat infeksi SARS-Cov-2 secara in vitro.

Dia mengatakan hasil penelitian tersebut dinilai berdasarkan peningkatan CT Value uji real time PCR/rRT-PCR, peningkatan nilai Optical Density uji MTT dan tidak ditemukan kerusakan sel/cytopathic effect (CPE)," jelasnya.

"Hasil pengujian eucalyptus formula 822, untuk toksisitas akut 2, 3 dan 4 jam serta toksisitas subkronik 0.5, 1 dan 2 jam tidak menunjukkan perubahan pada mencit dengan baik untuk general physiology maupun pathology, serta tidak ada kematian dan tanda klinis yang terlihat. Hal ini menunjukkan bahan tersebut tidak toksik pada parameter tersebut," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Djufry mengatakan tanaman eucalyptus ini memiliki lebih dari 700 spesies di dunia, salah satunya dikenal di Indonesia itu minyak kayu putih. Balitbang Pertanian turut mengoleksi beberapa jenis eucalyptus ini yang diharapkan sebagai sarana untuk melawan virus Corona.

"Di kebun kita itu ternyata ada satu hingga dua spesies eucalyptus yang melalui awal-awal uji itu paling tidak secara laboratorium itu itu bisa menghambat pertumbuhan virus Corona," jelasnya.

Ia berharap produk eucalyptus ini bisa digunakan sebagai preventif pencegahan COVID-19. Tak lupa meminta dukungan semua pihak untuk terus menyempurnakan produk eucalyptus ini sehingga bisa menjadi produk kebanggaan Indonesia.

Tonton juga Video: Fakta dan Mitos Soal Eucalyptus hingga Renang Saat COVID-19

[Gambas:Video 20detik]



(prf/hns)