Heboh 'Kelas Orgasme' di Bali, Etis Nggak Sih Promosi Berbau Seks?

Tim detikcom - detikFinance
Jumat, 07 Mei 2021 13:39 WIB
Masyarakat kembali dihebohkan atas penawaran kegiatan kelas orgasme di Bali (Screenshot eventbrite.com)
Foto: Masyarakat kembali dihebohkan atas penawaran kegiatan 'kelas orgasme' di Bali (Screenshot eventbrite.com)
Jakarta -

Iklan soal kegiatan 'kelas orgasme' di Bali menuai kontroversi. Banyak yang menentang kegiatan tersebut, sampai-sampai otoritas di Bali turun tangan.

Berbicara mengenai iklan, sebenarnya juga banyak pengiklan yang memanfaatkan nuansa erotis demi mendapatkan perhatian masyarakat. Lalu etis nggak sih?

Pakar marketing Hermawan Kartajaya mengatakan, pada dasarnya semua yang berbau seks memang menarik bagi pria maupun wanita. Sebab itu merupakan sifat dasar manusia.

"Yang lihat seks bukan hanya laki-laki, perempuan juga tertarik sebetulnya. Mungkin perempuan juga ingin menjadi model yang lebih cantik dari dia, lebih seksi," ucapnya saat berbincang dengan detikcom, Jumat (7/5/2021).

Dengan begitu sebenarnya beriklan dengan menggunakan unsur seks seperti 'kelas orgasme' di Bali cukup efektif untuk menarik perhatian. Namun jika ditanya mengenai etis atau tidak, menurut Hermawan itu tergantung dengan budaya di masing-masing tempat.

"Jadi iklan itu harus menyesuaikan dengan budaya. Kalau nggak diterima oleh market lokal setempat ya nanti akan negatif feedback-nya. Tidak positif lagi," ucapnya.

Untuk Indonesia, jelas menurut Hermawan sangat tidak cocok. Sebab hampir seluruh masyarakat Indonesia sangat religius dan konservatif baik di agama apapun.

"Pancasila kita Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi jangan lah pakai seperti itu di Indonesia kesimpulannya itu. Lihat saja Victoria Secret di sini, tokonya kan berbeda dengan negara lain," ucapnya.

Sementara Pakar Marketing, Yuswohady mengatakan, dalam kegiatan periklanan memang tujuan utama adalah perhatian masyarakat. Terkadang para pelaku iklan juga rela berbuat apapun agar target itu tercapai, termasuk menggunakan hal-hal sensual.

"Yang sensual kan selalu bikin orang noleh terutama cowok. Jadi kalau yang dilakukan marketer ya begitu. Artinya dalam rangka pay attention experiment, coba-coba mereka. Masalah nanti ada orang yang kritik urusan belakangan," terangnya.

Namun juga menurut Yuswohady, ketika iklannya mendapatkan kritikan dan menjadi perbincangan publik, justru pelaku iklan terkadang senang. Sebab iklannya viral dan mendapatkan perhatian banyak orang.

Iklan bernuansa sensual memang memiliki tingkat efektivitas yang tinggi. Namun seiring dengan itu risikonya juga besar. Bahkan bisa menjadi bumerang bagi brand-nya sendiri.

(das/ara)