Audit BPPT untuk Teknologi Pengolahan Nikel Anak Bangsa Rampung, What's Next?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 10 Mei 2021 05:48 WIB
Direktur Utama TMM, Petrus Tjandra (kanan) dan Direktur PTPSM BPPT, Rudi Nugroho (kiri) sedang memberikan Keterangan Pers.
Foto: (istimewa/BPPT)
Jakarta -

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah merampungkan audit teknologi proses STAL (Step Temperature Acid Leach) pada pilot plant pengolahan laterit nikel milik PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI), Kamis (6/5) di Bogor, Jawa Barat. Adapun, teknologi STAL merupakan teknologi pengolahan nikel dan kobalt secara hidrometalurgi, yang dikembangkan oleh PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (TMM), dengan kode saham PURE, serta dimiliki oleh HMI selaku entitas anak perusahaan TMM.

Hasil audit teknologi STAL menunjukkan bahwa pada tahap proses pelindian, teknologi ini dapat menghasilkan recovery nikel mulai 89 hingga 91%, dan kobalt sebesar 90 hingga 94%.

Sementara itu, pilot plant STAL juga telah mampu menghasilkan MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) dengan kandungan Ni hingga lebih dari 35%, dimana produk MHP ini dapat digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan baterai kendaraan listrik.

Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Mineral (PTPSM) BPPT, Rudi Nugroho mengatakan, recovery Nikel dengan teknologi STAL dapat mencapai 89 sampai dengan 91%. Ini jauh lebih bagus daripada AL (Atmosphere Leaching) yang hanya 50 hingga 70%, dan tipis bedanya dengan HPAL (High Pressure Acid Leaching) yang sekitar 95 hingga 96%.

Menurut Rudi, dengan kualitas yang tipis bedanya ini, teknologi STAL memiliki kelebihan dari sisi peralatan dan operasional yang lebih simple daripada HPAL.

"Butuh skill khusus untuk mengoperasikan HPAL. Peralatannya lebih kompleks, seperti tangki-tangki yang digunakan harus bisa dioperasikan dengan tekanan tertentu yang sesuai dengan standar High Pressure Acid Leaching," ungkap Rudi Nugroho.

Lebih lanjut, Rudi Nugroho memberikan apresiasi terhadap kehadiran Trinitan Industrial Development Assessment Center (TINDAC) sebagai suatu sarana pengembangan. Menurut Rudi, komitmen dari swasta, dalam hal ini TMM, sangat besar untuk mengeluarkan inovasi teknologi, dengan menciptakan suatu ekosistem, bekerja sama antar stakeholder.

Sementara itu, Direktur Utama TMM, Petrus Tjandra berharap agar sinergisitas yang sudah dibangun dengan BPPT dapat terus berlangsung, terutama dalam pengembangan turunan dari produk-produk STAL, agar dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat kedaulatan Republik Indonesia dengan basis riset dan inovasi.

"Indonesia membutuhkan kehadiran inovasi-inovasi teknologi pengolahan yang mumpuni seperti teknologi STAL, yaitu teknologi karya anak bangsa yang mampu memanfaatkan kekayaan alam di bumi Indonesia, dengan mengolahnya untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah (added value)," ujar Petrus.

Bersambung ke halaman selanjutnya.