Masalah Klise Harga Pangan Mahal Jelang Lebaran, Apa Nggak Ada Solusinya?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Selasa, 11 Mei 2021 04:30 WIB
Harga Pangan
Foto: Trio Hamdani
Jakarta -

Kenaikan harga komoditas pangan pokok menjelang hari besar keagamaan nasional (HBKN), terutama Ramadhan-Idul Fitri sudah menjadi fenomena rutin setiap tahun. Begitu juga tahun ini, harga pangan seperti minyak goreng, cabai, daging sapi dan ayam mengalami kenaikan drastis jelang Lebaran.

Menurut Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rusli Abdullah, pada hari-hari besar tersebut, hukum ekonomi yang mutlak memang terjadi di pasar, terutama soal pasokan dan permintaan alias supply and demand. Namun, ia mengatakan masih ada cara untuk menekan harga pangan pokok naik drastis yang tak wajar.

"Pertama itu memastikan stoknya melimpah. Misalnya ayam, pengusaha ayam broiler itu sudah menyiapkan pasokan 2-3 bulan sebelumnya, dan pemerintah juga harus mendorong itu," kata Rusli kepada detikcom, Senin (10/5/2021).

Rusli mengatakan, khusus tahun ini ada 2 komoditas pangan yang harganya naik drastis, salah satunya disebabkan oleh faktor di luar hukum pasokan dan permintaan.

"Daging ayam itu ada kenaikan harga pakan yang diimpor. Sapi, harga yang diimpor dari Australia memang naik. Nah itu ada faktor pendorong di luar supply and demand hari raya," terang dia.

Oleh sebab itu, pengusaha dan pemerintah harus memastikan pasokan melimpah sebelum Lebaran, agar kenaikan harga masih bisa dikendalikan.

Kedua, mengawasi pergerakan harga di level distributor sebelum barang masuk ke pasar. "Ini perlu ditelisik lebih lanjut oleh pemerintah agar naik jangan terlalu banyak. Kalau naik tiba-tiba sampai 30%, itu tidak boleh," tegas Rusli.

Dihubungi terpisah, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, pemerintah juga bisa menekan kenaikan harga yang tak wajar jelang Lebaran dengan rutin memantau pergerakan harga di pasar. Jika harga naik drastis, maka pemerintah harus segera melakukan operasi pasar.

"Biasa permintaan tinggi bisa diimbangi dengan penawaran terhadap barang tersebut. Jadi pemerintah harus melihat dari sisi supply, sehingga operasi pasar harus rutin dilakukan," tutur Yusuf.

Untuk jangka panjang, produksi komoditas pangan pokok harus ditingkatkan. Ia mengatakan, jika stok memenuhi kebutuhan, maka kenaikan harga tak wajar bisa dihindari.

Apabila ada komoditas yang pasokannya masih didominasi oleh produk impor, maka pemerintah harus melakukan impor pada waktu yang tepat.

"Nah impornya juga harus tepat, di kala memang dibutuhkan. Jadi selain produksi ditingkatkan, kombinasikan dengan pemenuhan pasokan melalui impor (untuk komoditas yang produksinya belum memadai di dalam negeri)," jelas Yusuf.

Terakhir, perbaiki data produksi dan stok pangan. Ia mengatakan, persoalan data ini sangat krusial, karena bisa menentukan langkah kebijakan pemerintah.

"Misalnya untuk impor saja, data yg di Kemendag, BPS, dan Kementan berbeda, contoh beras. Sebenarnya kalau kita telusuri ini masalah klasik, dan ini belum selesai. Seringkali ini menjadi penyebab kenaikan harga pangan menjelang Lebaran," tandas Yusuf.



Simak Video "Harga Cabai Meroket, Petani Sebut Faktor Cuaca"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)

Tag Terpopuler