RI Hanya Serap Pinjaman Jepang US$ 700 Juta
Jumat, 10 Mar 2006 18:08 WIB
Jakarta -
Dari plafon pinjaman dari pemerintah Jepang sebesar US$ 1 miliar, Indonesia hanya akan menyerap sekitar US$ 700 juta yang akan digunakan untuk membiayai proyek infrastruktur."Jepang yang menawarkan US$ 1 miliar, tidak akan kita pakai semua sekarang. Paling US$ 700 juta untuk beberapa proyek infrastruktur," ungkap Meneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta usai mengikuti rapat di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (10/3/2006).Menurut Paskah, pihaknya melakukan pembahasan dengan Presiden mengingat tenggat waktu pengajuan pinjaman hanya sampai 31 Maret 2006. Indonesia sendiri masih akan menegosiasikan term pinjaman Jepang tersebut.Sementara untuk tingkat suku bunga, Indonesia akhirnya harus nurut ketentuan dari Jepang yang menaikkannya dari 1,3 persen menjadi 1,5 persen. "Ya ini memang tidak bisa. Kita sudah melakukan lobi resmi mulai resmi hingga heart to heart, tapi ternyata Jepang tetap berpegang pada scheme multilateral, bahwa kita terjadi kenaikan GDP dari low ke middle low. Ini skim dari world Bank," urai Paskah.Rencananya, dana dari Jepang itu akan digunakan untuk membiayai 9 proyek infrastruktur. "Tapi masih ada satu proyek yang akan kita bicarakan lagi term dan kondisinya. Presiden nggak ada arahan untuk proyek tertentu. Yang penting optimal, hati-hati, dan jangan sampai mubazir sesuai diatur PP 2/2006," tambah Paskah.Beberapa pinjaman luar negeri seperti dari ADB sekitar US$ 400 juta, tidak akan seluruhnya digunakan. Paskah mengungkapkan, Presiden SBY meminta agar pembiayaan baik dari dalam ataupun luar negeri dioptimalkan dan digunakan dengan hati-hati. "Apa yang tercantum di APBN tentang kebutuhan pembiayaan tidak mungkin tidak akan kita pakai semua. Contohnya Jepang tadi, kita hanya pergunakan sebagian. Presiden menganut sistem kehati-hatian," jelasnya.
(qom/)










































