Ternyata... Ini yang Bikin Pemerintah Pede Ekonomi Tembus 7%

Hendra Kusuma - detikFinance
Sabtu, 15 Mei 2021 13:30 WIB
Pemulihan ekonomi nasional di tahun 2021 masih memiliki tantangan besar. COVID-19 masih menjadi faktor ketidakpastian alias hantu pemulihan ekonomi.
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2021 melesat ke zona positif, bahkan diprediksi 7%. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar minus 0,74% dibandingkan periode yang sama di 2020.

"Namun trennya, arahnya ke positif dan konfirm pertumbuhan V-curve," kata Airlangga dalam acara Antisipasi Mobilitas Masyarakat dan Pencegahan Lonjakan Kasus COVID-19 Pasca Libur Lebaran secara virtual, Sabtu (15/5/2021).

Airlangga menjelaskan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada kuartal II-2021 dikarenakan beberapa indikator perekonomian nasional yang sudah mulai bangkit. Misalnya purchasing manufacturing index (PMI) hingga indeks keyakinan konsumen (IKK).

"Pertumbuhan ekonomi di kuartal II masuk jalur positif dan diperkirakan bisa capai 7% dilihat dari PMI, dari segi aktivitas, indeks keyakinan konsumen sudah mendekati normal di angka 90 menuju 100, dan kemudian kita melihat dari perekonomian kita ekspor dan impor sudah kembali dari belanja pemerintah berada dalam jalur positif," katanya.

"Beberapa sektor baik komunikasi dan informasi, jasa kesehatan, pertanian, properti maupun industri adanya PPnBM ditanggung pemerintah dan PPN ditanggung pemerintah kenaikan cukup tinggi, PMTB kita mendekati minus 2,3, ekspronya lebih tinggi dari sebelum COVID," tambahnya.

Selain itu, perekonomian nasional secara spasial pun mengalami perbaikan meski masih berada di zona negatif. Seperti Jawa pertumbuhannya minus 0,83%, Sumatera minus 0,86%, Kalimantan minus 2,23%, Bali dan Nusa Tenggara minus 5,16%.

Sementara Sulawesi, Maluku dan Papua sudah berada di zona positif. Di mana, Sulawesi tumbuh 1,20%, Maluku dan Papua tumbuh 8,97%.

"Sulawesi sudah positif, bahkan di Maluku dan Papua sudah positif di dorong oleh kegiatan harga komoditas baik sawit, karet, nikel, cooper, batubara," ungkapnya.

(hek/hns)