Pemerintah Setuju Terbitkan Undertaking Letter Merpati
Senin, 13 Mar 2006 12:59 WIB
Jakarta - Pemerintah melalui Menneg BUMN Sugiharto memberikan sinyal untuk segera menerbitkan undertaking letter (surat jaminan) kepada PT Merpati Nusantara, agar bisa memperoleh dana segar.Dengan keluarnya undertaking letter nanti, maka Merpati bisa mendapatkan bridging finance dari kreditor, sehingga keuangan perusahaan pelat merah ini bisa diselamatkan."Memperhatikan kondisi keuangan negara yang terbatas, maka opsi brigding fianace dengan persyaratan utama menerbitkan undertaking letter merupakan pilihan yang tepat," kata Sugiharto.Hal itu diungkapkan Sugiharto, disela rapat kerja dengan Komisi XI DPR, di Gedung DPR/MPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (13/3/2006).Pemerintah memilki dua opsi untuk menyelamatkan Merpati yang sedang membutuhkan dana Rp 450 miliar atau US$ 50 juta. Opsi tersebut adalah mengeluarkan dana dari APBN atau melakukan brigding finance. Karena APBN pemerintah terbatas maka opsi brigding finance dinilai paling tepat.Namun mengingat kondisi keuangan Merpati yang sedang payah, kreditor tidak mungkin memberikan bridging finance tanpa ada undertaking letter dari pemerintah.Menurut Sugiharto, dengan adanya brigding finance, maka kondisi Merpati akan membaik. Diperkirakan pada tahun 2008, Merpati akan memiliki ekuitas yang positif sebesar Rp 182,3 miliar dari sebelumnya negatif Rp 1,19 trilin.Pada tahun 2008, Merpati juga diproyeksikan sudah bisa mencatatkan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) sebesar Rp 404 miliar.Jumlah armada Merpati juga meningkat dari 33 pesawat yaitu 9 jet dan 24 propeller (pesawat baling-baling) di tahun 2005, menjadi 49 pesawat dengan 25 jet dan 24 propeller di tahun 2008.Dengan penambahan armada tersebut diharapkan akan meningkatkan seat kilometer penjualan lebih dari 100 persen. Ini setara dengan pendapatan yang meningkat dari Rp 1,5 triliun di tahun 2005 menjadi Rp 3,3 triliun tahun 2006.Sugiharto menjelaskan, nantinya pengembalian utang kepada kreditor yang mendanai bridging finance bisa dilakukan tahun 2008. Solusinya melalui pembayaran kembali (repayment), penawaran umum perdana (IPO) atau strategic sale saham minoritas milik Merpati.Merpati saat ini mengalami defisit cashflow sebesar 15-20 miliar per bulan, utang Rp 1,7 triliun dan negatif ekuitas Rp 1,15 triliun, berdasarkan data per September 2005.
(ir/)











































