Rencana Besar Erick Thohir Pulihkan Industri Film Nasional Lewat BUMN

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 21 Mei 2021 07:30 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Menteri BUMN Erick Thohir punya rencana besar untuk membangkitkan industri perfilman tanah air. Dia akan menugaskan Telkomsel hingga Perusahaan Film Nasional (PFN) untuk mewujudkan rencananya.

Yang pertama, dia ingin Telkom dan Telkomsel jadi agregator film karya sineas tanah air. Maksudnya menjadi agregator adalah Telkomsel lebih banyak menggunakan konten karya seniman lokal. Mulai dari menyiarkan film lokal hingga membeli hak ciptanya.

"Kita ingin Telkom dan Telkomsel jadi agregator konten lokal, di dunia film, musik, dan lain-lain. Mungkin, dengan menyiarkan kontennya, membeli rights-nya, dan lainnya," ungkap Erick ditemui di Bioskop XXI Plaza Senayan, Kamis (20/5/2021).

Agregator film sendiri adalah sebuah layanan mengumpulkan banyak konten dalam suatu tempat, dalam hal ini konten yang dikumpulkan adalah film.

Erick sendiri menampik saat ditanya apakah Telkomsel akan diminta membuat aplikasi pengumpul film semacam Netflix. Menurutnya, Telkomsel akan berjalan tetap pada bisnis utama telekomunikasinya.

"Nggak lah (buat aplikasi semacam Netflix). Bisnis Telkom, Telkomsel itu bisnis infrastruktur dan dia tetap di telco business. Kita nggak mau juga Telkom, Telkomsel ini pindah bisnis lain, tapi kita mau bantu tadi kontennya," ungkap Erick.

Rencana besar yang kedua, Erick ingin PT Perusahaan Film Negara alias PFN yang dahulu memproduksi beberapa film lokal tidak lagi ikut memproduksi film.

PFN yang pernah memproduksi serial si Unyil ini akan diubah bisnisnya menjadi perusahaan pembiayaan film.

"Kedua, kita minta PFN jangan jadi bersaing membuat film, tapi PFN justru kita mau jadikan lembaga pembiayaan film," ungkap Erick.

Namun, dia tidak menjelaskan rinci soal rencana ini. Erick hanya mengatakan saat ini wacana itu sedang dipelajari Kementerian BUMN. Salah satu yang jadi pertimbangan besar adalah resiko besar pembiayaan film.

"Tidak mudah, saat ini masih kita sedang pelajari. Sudah 7 bulan. Ini risikonya besar untuk buat film," ungkap Erick.

Rencana besar itu dipaparkan Erick saat nonton bareng film Tjoet Nja' Dhien yang dirilis tahun 1988. Film ini baru saja direstorasi di Belanda. Hal itu dilakukan Erick di XXI Plasa Senayan, Jakarta Selatan.

Film yang ditonton Erick Thohir dibesut oleh sutradara Eros Djarot dan dibintangi oleh Christine Hakim dan Slamet Rahardjo selaku pemeran utama. Tjoet Nja' Dhien menceritakan kisah perjuangan pejuang wanita asal Aceh di masa penjajahan Belanda.

Erick mengatakan film berlatar belakang sejarah harus lebih banyak diproduksi. Menurutnya bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.

"Saya ingin sekali tiap tahunnya Indonesia punya film perjuangan, terlepas dari film drama, action. Kalau tiap tahun ada film perjuangan seperti ini, sangat penting untuk generasi muda melihat. Bahwa bangsa besar itu, bangsa yang tahu sejarahnya, belajar dari sejarahnya," tutup Erick.

(hal/eds)