Tiga Kabupaten di Sumsel Kekurangan Listrik
Senin, 13 Mar 2006 16:18 WIB
Palembang -
Gubernur Sumatra Selatan Syharial Oesman boleh saja mencanangkan "Sumsel Lumbung Energi". Namun, tiga daerah di provinsi itu masih saja kekurangan energi.Ketiga daerah itu yakni Musi Banyuasin, Banyuasin dan Ogan Komering Ilir. Sebab masyarakat di tiga daerah itu yang menikmati listrik masih di bawah 85 persen.Demikian data dari Dinas Pertambangan dan Pengembangan Energi Sumatra Selatan. Misalnya, Musi Banyuasin yang banyak menghasilkan minyak dan gas, menduduki peringkat pertama kekurangan listrik dengan rasio baru 45 persen. Dari 205 desa yang ada, baru sekitar 89 desa yang mendapat aliran listrik.Posisi kedua adalah Banyuasin, yang juga daerah penghasil minyak dan gas, dengan rasio 55 persen desa yang berlistrik. Dari 251 desa yang ada baru sekitar 135 desa yang sudah dialiri aliran listrik. Sementara di OKI dari 281 desa, sekitar 162 yang dialiri listri atau rasio 59 persennya."Melihat kondisi yang ada, kita menargetkan sampai 2008-2009 akan menaikkan tiga kabupaten ini jadi sekitar 85 persen rasio desa berlistrik. Sebab di beberapa kabupaten lainnya sudah di atas 85 persen," kata Ruhur Rusdi, kasubdin listrik, minyak, dan gas Distamben Sumsel di kantornya Jalan Kapten A. Rivai Palembang (13/3/2006).Dijelaskan Ruhur, hingga sekarang sekitar 2.049 desa dari total 2.762 sudah menikmati aliran listrik. Dengan kata lain, baru 75 persen berlistrik, sedangkan sisanya sebanyak 25 persen belum menikmati.Faktor penyebab desa belum menikmati aliran listrik karena lokasinya berada di pesisir pantai seperti di Musi Banyuasin dan Banyuasin, sehingga tidak mungkin dilakukan pembangunan jaringan listrik dari PLN.Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya berupaya membangun tenaga listrik dengan bantuan energi matahari atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pada 2005 lalu, dialokasikan di Musi Banyuasin sebanyak 150 unit PLTS, dan 2006 ditambah 300 unit di Muba dan 300 unit PLTS di OKI.Setiap satu unit PLTS ini, menurut Ruhur, hanya berkekuatan sekitar 50 watt. Nantinya, setiap desa akan ditempatkan 100 PLTS pada masing-masing rumah. Diperkirakan, total PLTS yang akan disalurkan pada 2006 ada 600 unit PLTS untuk Musi Banyuasin dan Ogan Komering Ilir dengan harga per unit Rp 4,3 juta atau sekitar Rp 2,58 miliar yang dialokasikan dari APBD. Di samping, bantuan dari PLN untuk Banyuasin sekitar 118 unit PLTS.Cina Bantu US$ 2,5 JutaChina Huandian Corporation melalui PT Indika Inti Energi mulai mensurvei pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Bangko Tengah dengan kapasitas 4 kali 600 MW. Pembangkit ini diperkirakan menghabiskan dana sekitar US$ 2,5 juta."Survei dilakukan mengingat syarat pembangunan PLTU harus dekat dengan sumber air. Untuk dana sendiri sudah dialokasikan ke PT Indika Partner," jelas Ruhur. Diungkapkannya, kerja sama yang dilakukan sejak Juni 2005 lalu sampai sekarang terus berlanjut. Termasuk kepengurusan izin yang dilakukan di antaranya izin mendirikan bangunan, kajian amdal masih diteliti.Hanya, sejumlah pembangunan kelistrikan di Sumsel masih terkendala dengan negosiasi harga yang alot dengan pihak PLN. Dicontohkannya, PT Meta Epsi yang membangun PLTGU di Gunung Megang membutuhkan waktu satu tahun untuk negosiasi harga. Dijelaskannya, harga jual listrik per kWh di atas 6 sen. Sementara harga pokok produksi PLN sekitar 4-5 sen. Dari harga tersebut pembelian PLN kepada investor sekitar 6 sen dan dijual kembali ke konsumen sekitar 7 sen. Namun mahal dan murahnya harga terantung dengan distribusi jauh dekatnya sumber gas yang tersedia untuk memasok kebutuhan listrik."Tapi di Bangko Tengah berani menjual dengan harga lebih murah, di bawah 4 sen. Karena menggunakan PLTU mulut tambang berbahan bakar batubara. Tetapi PLN juga tentunya perlu melihat jaminan kontrak jangka panjang ketersediaan untuk energi," katanya.
(qom/)










































