Work From Bali Mencuat karena Ekonominya Sedang Sekarat

Trio Hamdani - detikFinance
Minggu, 23 Mei 2021 07:29 WIB
gwk
Foto: (Kurnia/detikTravel)
Jakarta -

Gagasan Work From Bali (WFB) menuai pro dan kontra. Program tersebut digaungkan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan untuk PNS di bawah koordinasinya.

Kemenko Marves pun membeberkan kondisi memperihatinkan Bali sehingga perlu adanya gerakan Work From Bali. Berikut informasinya:

1. Ekonomi Bali Sekarat

Atas adanya pertentangan di berbagai kalangan, Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenko Marves Odo R.M. Manuhutu menegaskan, Bali yang selama ini ekonominya ditopang oleh sektor pariwisata membutuhkan pertolongan.

"Kita lihat bahwa terjadi kontraksi yang cukup dalam di Bali 9,3% (2020), triwulan pertama juga masih terkontraksi. Artinya terjadi penurunan aktivitas ekonomi, betapa banyak hotel-hotel yang beroperasi dengan minimum capacity, 10%," katanya dalam konferensi pers virtual, kemarin Sabtu (22/5/2021).

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Biro Komunikasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Vinsensius Jemadu menyebut bahwa Bali memang dapat digambarkan sedang sekarat. Untuk itu pihaknya mendukung program Work From Bali.

"Kita lihat bahwa sektor yang paling parah terdampak adalah sektor pariwisata, dan dari sisi geografis kita lihat, dari sisi destinasi memang Bali lah yang paling parah bahkan sekarat boleh dibilang, dying dan tidak mungkin bisa survive lagi kalau tidak dilakukan beberapa antisipasi solusi yang ada," jelas Vinsensius.

2. Hotel Sulit Gaji Karyawan

Dengan kapasitas hotel yang hanya terisi 10%, Odo menjelaskan bahwa hotel-hotel di Bali kesulitan untuk membayar gaji karyawan.

"Ketika kita berbicara bahwa itu 10%, artinya untuk bayar gaji pun tidak cukup, bayar listrik tidak cukup, untuk maintenance pun tidak. Bahwa sebuah hotel untuk bisa membayar maintenance paling tidak okupansi rate harus 30% sampai 40%," jelasnya.

Dijelaskan Odo, selama berbulan-bulan okupansi rate hotel di Bali hanya di kisaran 8% sampai 10%. Situasi tersebut sangat tidak menguntungkan bagi pekerja di sektor perhotelan.

"Jadi salah satu cerita, ini adalah cerita nyata seorang pekerja di salah satu hotel itu mengatakan selama 4 bulan tidak bekerja, hanya di rumah dan dia baru menikah, dan terpaksa mantap = makan tabungan," tuturnya.