Sugiharto: Meski Jadi GM, Exxon Tak Punya Hak Prerogatif
Selasa, 14 Mar 2006 13:46 WIB
Jakarta - Meski menjadi 'panglima' Blok Cepu, ExxonMobil tak lantas bisa berbuat semau-maunya. Kata Menneg BUMN Sugiharto, ExxonMobil tetap tak punya hak prerogatif di Blok Cepu.Sugiharto menjelaskan, di Blok Cepu, posisi tertinggi diduduki oleh Joint Operation Committee (JOC) atau Komite Operasi Bersama dengan Pertamina sebagai ketuanya."GM tidak punya satu pun prerogatif. Tanpa ada persetujuan dari JOC, satu dolar pun tidak bisa dikeluarkan. JOC itu komposisinya 50:50 dan ketuanya Pertamina, Dan disana ada balancing power, mayoritas orang Indonesia duduk disitu," tegas Sugiharto yang dicegat wartawan di Kantor Kepresidenan, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (14/3/2006).Dalam penjelasan saat konferensi pers soal kesepakatan Blok Cepu disebutkan, Komite Operasi Bersama merupakan pihak yang berwenang membuat maupun memutuskan perencanaan operasi, rencana program kerja dan anggaran, persetujuan pengeluaran maupun pelaksana kegiatan operasi Blok Cepu. PT Pertamina EP Cepu (PT PEPC) dan Mobil Cepu Limited (MCL) akan menempatkan masing-masing tiga orang perwakilan dalam komite tersebut. Komite Organisasi Bersama ini akan membawahi Organisasi Proyek Cepu.Nah, di organisasi Proyek Cepu ini terdiri atas General Manager yang dipegang MCL dengan wakilnya dari PECP. Sementara manager dibagi rata untuk PEPC dan MCL."Karena ini adalah 50:50 joint venture maka development cepu harus dilakukan oleh kedua partner secara pari pasu. Pertamina harus cari the dream team untuk develop Blok Cepu, bukan sendiri-sendiri. GM-nya dia, DGM-nya kita. Operation manager dia, planning manager kita," urai Sugiharto.Sugiharto pun mengakui bahwa dari sisi teknologi, ExxonMobil lebih mampu sehingga pemerintah tak mau mengambil risiko. Karena dengan karakteristik minyak yang high risk dan high return, jika penanganannya salah maka akan menimbulkan kerusakan di bawah bumi."Teknologi sebetulnya mereka kan memang sudah super major. Jadi kita memang tidak mau risiko. Karena tidak menguasai teknologi lalu reservoir hancur. Kalau lapangannya dikelola secara kredibel, tentu cadangannya pasti dan tersertifikasi," tegasnya.Menurut Sugiharto, tak ada alasan sulit untuk melakukan eksplorasi. "Pertanyaannya adalah mahal atau murah," cetusnya.Lebih lanjut Sugiharto berharap agar Blok Cepu segera beroperasi mengingat himpitan subsidi yang semakin mencekik leher APBN karena impor BBM. "Makin cepat Cepu beroperasi, makin selesai masalah fiskal dan itu berarti dana pembangunan menjadi lebih baik. Paling cepat awal 2009 karena ini kan mundur terus. Kalau diputus tahun 2001, tahun 2004 kita tidak akan mengalami situasi seperti sekarang ini," sesal Sugiharto.Mantan Direktur Keuangan Medco ini mengaku keputusan soal Blok Cepu sudah merupakan yang terbaik. "Kita sudah 34 kali rapat dan keputusannya tetap joint operation bukan single operation. JOC itu yang tertinggi yang memutuskan setiap pengeluaran dan program. Pertamina yang menjadi ketuanya," tegasnya.Yang pasti, Sugiharto tetap berharap Pertamina bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. "Saya sudah meminta agar Pertamina menjadi integrated oil and gas company. Saya yang paling terdepan membela Pertamina. Harapan saya dari minyak bisa terpenuhi 20%. Sedangkan dari gas, dahsyat sekali," tandasnya.
(qom/)











































