Bos BI 'Jual' Kelebihan RI Biar Investor Pede Tanam Modal, Apa Saja?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 27 Mei 2021 18:30 WIB
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan lagi suku bunga acuannya. Kini BI 7 Days Repo Rate turun jadi 5,5%.
Gubernur BI Perry Warjiyo/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Kondisi ekonomi Indonesia mulai pulih di tengah pandemi COVID-19. Ini menjadi hal yang dipertimbangkan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut secara tahunan memproyeksi pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4,1-5,1%. Kontraksi pertumbuhan ekonomi yang terjadi tahun lalu lebih kecil jika dibandingkan negara lain.

"Setelah terjadi kontraksi atau negatif tahun lalu, kita lebih kecil dibanding negara lain. Dari mana pertumbuhan ini? Ada ekspor, investasi yang kuat dan didukung oleh konsumsi swasta dan berlanjutnya stimulus moneter dan fiskal," kata dia dalam acara Indonesia Investment Forum (IIF), Kamis (27/5/2021).

Selain itu kondisi stabilitas makroekonomi nasional dalam keadaan terkendali, terutama untuk nilai tukar dan inflasi.

Lalu pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2021 ditargetkan mencapai 7%. Perry meyakini dalam waktu lima tahun ke depan Indonesia akan menjadi negara yang hebat.

Selanjutnya, Perry meyakini koordinasi kebijakan yang kuat antara BI dan pemerintah. Dia juga menceritakan, bagaimana pihaknya dari hari ke hari melakukan koordinasi erat bersama pemerintah.

"Jadi nomor dua, koordinasi kebijakan yang sangat kuat. Itulah rekam jejak Indonesia di masa lalu, kami menunjukkan ketangguhan kami di bawah kesulitan, tangan kami saling erat erat dan kami berhasil mengelola dengan sukses," tambah dia.

Alasan terakhir, Indonesia saat ini sedang mengalami pertumbuhan digital yang sangat pesat. Dari catatannya, pertumbuhan ekonomi digital pada e-commerce meningkat 39% selama pandemi COVID-19 atau mencapai US$ 25 miliar.

Kemudian uang elektronik tumbuh sekitar 32% atau mencapai US$ 18 miliar, dan perbankan digital tumbuh sekitar 22% atau mencapai US$ 2,2 triliun. "Bukan rupiah, tapi dollar," jelasnya.

"Ketiga alasan tersebut, yang membuat anda harus berinvestasi di Indonesia. Lalu tunggu apalagi?," jelas Perry.

(kil/ara)