RI Masih Tunggu Kuota Ibadah Haji, Bagaimana Nasib Agen Travel?

Tim Detikcom - detikFinance
Minggu, 30 Mei 2021 12:41 WIB
In this photo released by the Saudi Media Ministry, a limited numbers of pilgrims pray in the first rituals of the hajj, as they keep social distancing to limit exposure and the potential transmission of the coronavirus, at the Grand Mosque in the Muslim holy city of Mecca, Saudi Arabia, Wednesday, July 29, 2020. A unique and scaled-down hajj started on Wednesday. (Saudi Media Ministry via AP)
Foto: AP/Ministry of Media
Jakarta -

Pemerintah masih berupaya untuk mendapatkan kuota haji dari Arab Saudi. Arab Saudi dikabarkan akan mengizinkan ibadah haji pada tahun ini dengan persyaratan.

Informasi tersebut beredar di media sosial. Plt Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag, Khoirizi, mengaku belum menerima informasi resmi terkait hal tersebut.

"Jika benar bahwa Saudi membuka pemberangkatan haji 1442 H untuk jemaah dari luar negaranya, meski kuotanya terbatas, tentu ini harus kita syukuri, alhamdulillah, karena jemaah Indonesia juga sudah menunggu lama, apalagi tahun lalu juga tertunda," kata Khoirizi, dalam keterangan pers yang dikutip dari website Kemenag, Senin (24/5/2021).

"Namun demikian, sampai saat ini kami belum menerima pemberitahuan secara resmi tentang dibukanya pemberangkatan bagi jemaah di luar Saudi," sambungnya.

Situasi ini berpengaruh terhadap bisnis layanan pendukung dari penyelenggaraan ibadah haji dan umrah. Didorong vaksinasi yang semakin gencar agar pandemi Corona segera usai, bisnis ini diproyeksi bakal kian potensial.

President Director PT PT Arsy Buana Travelindo (ABT) Saipul Bahri mengatakan, bisnis layanan pendukung (service provider) Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) dinilai sangat potensial, seiring posisi Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, bergulirnya vaksinasi Covid-19, pembukaan ibadah haji untuk jemaah luar Arab Saudi, dan rencana Arab Saudi menaikkan kuota jemaah umrah dari 8 juta menjadi 30 juta per tahun pada 2030.

"Bisnis service provider perjalanan haji dan umrah sangat potensial. Kebutuhan para jamaah yang datang dari berbagai negara ke Tanah Suci hampir tiada henti sepanjang tahun," dalam keterangannya, Minggu (30/5/2021).

Bisnis layanan pendukung ini mencakup penginapan hotel, tiket pesawat, land arrangement, dan semua keperluan ibadah haji dan umrah jamaah selama di Tanah Suci.

Menurut dia, total penduduk muslim Indonesia mencapai 215 juta atau 87% dari populasi dan 24% dari total dunia. Setiap tahun, dalam kondisi normal, sebanyak 221 ribu jemaah haji asal Indonesia berangkat ke Arab Saudi. Dari jumlah itu, sebanyak 204 ribu merupakan haji reguler dan sisanya 17 ribu haji VIP.

Jumlah pendaftar haji, kata dia, terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga lama antrean terus bertambah. Berdasarkan data Kementerian Agama (Kemenag), antrean terlama dialami calon jemaah haji Kalimantan Selatan, yakni 34 tahun, sedangkan terpendek Maluku, 12 tahun.

Saat ini, dia menuturkan, terdapat 323 PIHK dan 1.016 PPIU. Mereka adalah mitra bisnis dari perusahaan layanan pendukung haji dan umrah seperti ABT.

Selain itu, dia menuturkan, Arab Saudi memiliki agenda untuk memacu sektor wisata, di samping minyak mentah. Kuota umrah pun dinaikkan menjadi 30 juta per tahun pada 2030. Ini menjadi fondasi kuat bagi bisnis layanan pendukung haji dan umrah untuk terus bertumbuh.

Berdasarkan data Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri), jumlah jemaah umrah asal Indonesia mencapai 948 ribu pada 2018-2019 atau 1440 hijriah dari total 4,4 juta jemaah. Indonesia berada di posisi kedua penyumbang jemaah umrah dengan kontribusi 21,44%, di bawah Pakistan. Saat ini saja, ada sekitar 100 ribu calon jemaah umrah asal Indonesia.

Melihat potensi itu, ABT, kata dia, siap menjadi perusahaan penyedia layanan wisata dan religi amanah. Saat ini, ABT memiliki tiga hotel di Mekah dan Madinah yang berada di lokasi strategis, antara lain Le Meridien, Elaf Mashaer, Fajr Badee, Mawadah Sofwa, dan Sham Province. Total kamar yang tersedia mencapai 889 per bulan.

Di bisnis tiket, dia menerangkan, ABT menjalin kerja sama dengan Citilink dan Etihad. Adapun di LA, ABT telah berpengalaman selama lima tahun dan memiliki jaringan lokal kuat, termasuk fasilitasnya.

Beberapa nama besar di sektor PIHK dan PPIU, kata dia, menjadi mitra ABT. Sebut saja Madinah Iman Wisata, Sarana Umrah Haji, Satriani, Bastour, El Amien Tours, Forum Travel Partner Indonesia, Al Razafa Group, serta Paksi Tours dan Travel.

(zlf/dna)